Ini cerpen yang dibuat waktu UAS praktek kelas 10, gajelas banget emang ceritanya tapi buat saya ini cerpennya penuh arti banget ^^
Pluto Juga Planet
Bayangan
samar-samar kulihat dibalik kedua telapak tanganku. Aku tetap mencoba membuka
secara perlahan kedua kelopak mataku. Dan yah! Lagi lagi aku tertidur. Ini
sudah yang kesekian kalinya aku bisa tertidur di saat pelajaran berlangsung.
Apalagi pelajaran geografi, entah kenapa hanya aku yang benci pelajaran ini.
Hanya aku yang dapat dengan nyenyak tidur di pelajaran ini. Padahal Pak
Yosephien adalah salah satu guru terfavorit di kelas -menurut teman-temanku.
Tapi kalau menurutku, Nothing!! Bukan hanya leluconya yang garing tapi karna
dia selalu memanggilku lazy (pemalas)
padahal namaku kan Lizzy. Walaupun teman-teman bilang itu hanya gurauan
belaka, tapi tetap saja aku tidak suka kalau Pak Yosep mengubah nama pemberian
orang tuaku ini. Tapi yah, aku tetap menghargainya sebagai guru dengan tidak
mengacaukan jam pelajarannya di kelasku. Makanya, lebih baik aku tidur.
Tidak
sengaja aku menoleh ke sebelah kiriku. Kulihat gadis itu mengangkat tanganya
dan menjungjung telunjuknya dengan semangat, Pluto -gadis yang selalu
bersemangat setiap pelajaran geografi.
"Lizzy, ayo jawab pertanyaan bapak!"
terdengar sayup sayup suara pak Yosep, tapi otakku cukup lelet untuk mencerna
dan mengerti perkataan pak Yosep tadi.
"ah ya pak? Pertanyaan yang mana?"
kataku balik bertanya. Kulihat pak Yosep mengerutkan keninggnya lalu
memggelengkan kepalanya. Aku mencoba untuk mengerti keadaanya, yang kubaca
hanya tulisan dan gambar bulat bulat di papan tulis.
"kenapa Pluto dinyatakan bukan sebagai
planet lagi? Ayo jawab lazy!" kesal pak Yosep, lagi lagi ia memanggilku
Lazy.
"eng~ itu pak~ itu~" kataku gugup.
Mencoba untuk menemukan jawaban yang mungkin nyambung dengan pertanyaan itu.
Namun, untuk merangkai kata pun otaku cukup sulit. "maap pak saya gak tau.."
kataku pasrah. Kulihat pak Yosep terlihat sangat kesal.
"tapi pak, mungkin Pluto tau
jawabanya" kataku sambil memunjuk Pluto yang masih mengacungkan jarinya.
Pak Yosephien melirik Pluto.
"Ya sudah, biar bapak terangkan
saja.." kata pak Yosep. Aku hanya bisa bengong. Lalu kulirik Pluto. Ia
menunduk dan raut wajahnya sedih tak lama ia menegakkan kepalanya dan
memperhatikan penjelasan pak Yosep lagi.