Minggu, 15 Mei 2011

[FF} So Glad Tobe Yours/romance/G/Oneshoot

Title : So Glad Tobe Yours
Author : saya *?
Cast :
- Lee Jung Hwan as Sandeul
-Author As Choi Minrin
Other Cast :
- Jung Jin Young As Jinyoung
- Cha Sun Woo As Baro
Genre : Romance
Rating : G
Length : oneshoot *banget

----------------------------------------


Mensyukuri karunia Tuhan, itulah yang terpenting. Karena, saat kau menyadari bahwa Tuhan itu menyayangi setiap mahkluknya. Dan ketika kau tercipta sebagai lelaki, maka bersyukurlah atas pemberian itu karena akan ada seorang wanita yang akan mengisi harimu , wanita yang menyayangimu, memberikan senyuman terbaiknya untukmu, dam memberikan seluruh kasih sayangnya untuk mu.
Dan laki laki yang ada di bangku itu, kini ia mengerti tentang hal itu. Tuhan pasti sangat sayang padanya sehingga ia diberi hadiah seorang wanita yang sangat sempurna. Dan ia sangat mensyukurinya, ia tidak akang pernah sekalipun akan menyakiti pemberianTuhan ini. Begitulah janji yang ia tanamkan Sandeul di dalam hatinya. Wanita yang sedang bersandar didada Sandeul itu pun menyadari bahwa ia merupakan hadiah untuk orang seperti Sandeul.
"kau tidak lelah,oppa?"
"lelah? Aku tidak melakukan apa apa hari ini " ucap Sandeul, tangannya terus menggenggam tangan gadis itu.
"Pulang sekolah kau langsung menemuiku di cafe~, masa tidak lelah sama sekali?" kini gadis itu menegakkan tubuhnya dan berbalik menatap Sandeul.
"hah, pergi ke sini dengan motor, lalu di cafe kerjaku hanya duduk sambil melihatmu mundar mandir membawa pesanan, hanya itu...bagaimana aku bisa lelah?" Sandeul mengangkat bahunya.
"mmh~ baiklah, padahal kalau kau lelah, aku mau memijitimu, tapi...yasudahlah" gadis itu tersenyum.
" aaah..aish~" Sandeul tiba tiba merenggangkan badanya " minrinaa~sebenarnya hari ini lenganku pegal sekali, dan ahhh bahuku juga.. Ayo pijiti sekarang" Sandeul menyodorkan lengannya pada Minrin, gadis itu.
" Shirreo~ katanya tidak lelah, kau kan kuat? " cibir Minrin, Sandeul mengembungkan pipinya.
"aishh~ kau tidak bisa ya bersikap manis pada ku?" kesal Sanddul.
" itu bukan styleku, kan kan tau itu"
"hss~yasudah sekarang kau mau kemana? " kata Sandeul sambil memakai jaket levisnya yang di gantungkan di ujung bangku.
" aku harus bekerja lagi, kau pulanglah saja dulu " kini Minrin beranjak dari kursinya lalu memakai topinya yang berwarna cokelat itu.
" tidak, aku akan menunggu mu sampai pulang "
" terserah kau saja..aku pulang sore lho"
" mana mungkin aku membiarkanmu pulamg sendiri~ apalagi kau pulang sore " ucap Sandeul khawatir
"baiklah~ terserah kau saja"-__-

--


Sandeul duduk di meja nomor 14, tepat di sudut cafe. Matanya terus tertuju pada laptop di hadapannya. Sesekali ia menatap Minrin yang sedari tadi, tidak henti-hentinya berjalan mundar mandir sambil membawa nampan berisi secangkir kopi hangat, menu favorit di cafe tempat ia bekerja.
" ini sudah jam 5, kau tidak beres-beres" ucap Sandeul saat ia menahan tangan Minrin sehabis ia mengantarkan pesanan.
" aaa~ benarkah? Baiklah aku beres-beres dulu.." kata Minrin tersenyum lalu pergi meninggalkan Sandeul. Saat Minrin hendak pergi ke ruang ganti. Tiba-tiba Jinyoung--teman 1 tempat kerjanya menarik tangannya dengan wajah panik ke dapur.
" aish~ wwaee?" kesal Minrin.
" Minrinaa, tolong aku antarkan pesanan ini.." kata Jinyoung tergesa-gesa, " ini kopi untuk pria yang memakai topi di meja 13~nee!"
"kau..kau kenapa?" tanya Minrin heran.
"aku..aku..hss ppalliwa~" kata Jinyoung menyodorkan nampannya lalu pergi ke WC.

--

" Sandeul!! " sapa seorang pria, lalu duduk di depan Sandeul.
" aa~ Baroo~!! Sudah lama tidak bertemu" ucap Sandeul balik menyapa Baro, temannya semasa sekolah menengah pertama dulu.
" aah, iya, sudah hampir 2 tahun kita tidak bertemu~ oh ya, kau kenapa disini? Apa kau minum kopi disini?" tebak Baro.
" Anii~ hhe, aku tidak suka kopi.."
"yaya, aku lupa, lagipula mana mungkin kau mau minum kopi dikedai seperti ini, levelmu kan tinggi"
"haha, tidak juga, tempat ini lumayan, penat juga rasanya kalau terus-terusan pergi ke restoran mahal"
"lantas, apa yang kau lakukan disini?" belum lagi Sanddul menjawab, datang seorang pelayan membawa pesanan milik Baro.
" Permisi, apa anda duduk di meja 13 tadi? " tanya Minrin pada Baro.
"ahh~nee.. Aku tadi duduk disana" kata Baro, Minrin pun menarug secangkir kopi ke atas meja.
"ini pesanan anda." ucap Minrin sambil tersenyum.
"yaa, terimakasih" timpal Baro ikut tersenyum. Minrin pun hendak meninggalkan meja itu namun Sandeul langsung menahannya.
"kenapa masih belum beres-beres, ini sudah sore" kata Sandeul mengingatkan Minrin. Baro yang melihat merasa bingung dengan apa yang ia lihat.
"ia aku tau, tadi aku hanya membantu Jinyoung yang sedang pergi ke kamar mandi" jelas Minrin.
" baiklah~ sekarng kau cepatlah ganti baju, kita pulamg" kata Sandeul, Baro bertambah bingun.
"kau? Ada hubungan apa denganya?" tanya Baro saat Minrin sudah meninggalkan meja itu.
"dia pacarku.." ungkap Sanddul bangga, lalu Baro menatapnya dengan heran " wwae?" tanya Sandeul.
" apa aku tidak salah dengar, kau seorang anak pejabat berhubungan dengan seorang pelayan cafe?" kata Baro cukup keras sampai terdengar oleh Minrin, membuatnya menghentikan lamgkahnya. Sandeul berbalik sedikit menoleh pada Minirin ,dan ia melihat Minrin masih berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia fikir pasti Minrin mendengar perkataan Baro, dan ia tau itu adalah sebuah sindiran yang cukup membuat minrin kesal, ia pun begitu.
"apa salahnya? Dia gadis baik, pintar, masakanya pun enak, dan aku menyayanginya" kata Sandeul membuat Minrin yang masih berdiri tersipu malu.
"wow, 2 tahun ini kau telah berubah ternyata" aku Baro, kagum. Sandeul pun tersenyum.

--

Saneul dengan setia menunggu minrin di luar cafe. Sudah 5 menit ia menunggu sambil berdiri di sebelah motornya itu. Tak lama Minrin muncul dari pintu depan cafe tersebut dengan senyum mengembang di wajahnya, Sandeul pun menyambutnya dengan tawa kecil 
"kau kenapa?sepertinya bahagia sekalh?" tanya  Minrin bingung, karna seharusnya ia melihat Sandeul dengan muka masam karena lama menunggunya. Tapi, Sandeul malah terlihat senang. Dan lagi- lagi Sandeul malah terkekeh sambil memberikan helm ditanganya pada Minrin, lalu naik ke motornya itu. Minrin hanya bisa mendesah kesal.
"kita mau kemana?" tanya minrin saat merasa jalur yang dilalui Sandeul bukanlah jalur yg biasanya mereka lalui.
"ayo tebak, kita akan kemana?" kata Sandeul sedikit keras agar Minrin mendengarnya. Minrin diam kemudian sambil memikirkanya.
"aish~ aku tidak tau, kita mau kemana sih??" tanya Minrin lagi, namun Sandeul tetap diam.
Sampai mereka berhenti di depan sebuah gedung. Minrin pun turun dari motor Sandeul dan menatap gedung tersebut. "kau tunggu disini~ ingat jangan kemana-mana"  titah Sandeul lalu menstater lagi motornya dan pergi.
"aish~ orang itu sedang apa sih?" gerutu Minrin sambil melihat Sandeul dan motornya menjauh. Sambil menunggu Sandeul datang, Minrin terus memperhatikan gedung bertinkat itu, begitu besar dan gemerlap. Banyak orang yang berlalu-lalang keluar masuk gedung tersebut, wanita wanita dengan gaun mewah juga sepatu highhels yang mewah juga terlihat sibuk. Ia mulai membandingkan dengan apa yang ia kenakan sekarang. Kaos gombrang , celana jeans kucel, ditambah sepatu kumuh kesayanganya, sangat miris memang.
"sedang lihat apa??" kata Sandeul seketika mengagetkan minrin yang sedang melamun.
"aishh~anii..tidak sedang apa-apa.." ucap Minrin, sambil memalingkan wajahnya.
"baiklah kalau begitu, ayo masuk" ucap Sandeul lalu menarik tangan Minrin. Tapi dengan cepat minrin menahannya Sandeul langsung menoleh padanya.
"mau apa ke dalam sana? Aku tidak suka pergi ke sana" ucap Minrin tegas. Tapi Sandeul tetap menariknya dan menyeretnya masuk ke gedung yang bertuliskan Doota Mall itu. Dan, sampailah mereka di depan salah satu toko. Disana terpajang puluhan sepatu dengan aksesoris yang cantik. Minrin tertegun melihat barisan sepatu indah tersebut. Sandeul tersenyum melihatnya dan langsung menarik Minrin masuk ke dalam toko itu.
"ayo pulang~" bisik Minrin sambil menarik pelang baju Sandeul, ia tetap menjaga sikapnya karena ini tempat umum. Namun, Sandeul tetap diam tidak menggubris Minrin yang sudah terlihat tidak nyaman. Ia tetap berjalan sambil melihat lihat sepatu yang terapajang di toko itu.

"jeball~ Sandeulahh!ayo kita pergi" pinta Minrin dengan nada memohon. Ia mulai risih demgan apa yang ia lihat, orang orang yang ada di dalam ruangan itu satu persatu mulai memandanginya dengan tatapan aneh, heran bahkan jijik. Ini sangatlah membuatnya geram dan lebih baik pergi.
"mmh~Minrinaa,ayo coba ini!" kata Sandeul berbalik sambil menyodorkam sepasang sepatu kets. Tapi Minrin malah memandangi sepatu itu dengan tatapan kesal.
"shireoo??" ucap Minrin tegas. Lalu dengan cepat berjalan ke luar toko itu meninggalkan Sandeul.
Pria itu malah bengong karna bingung dengan sikap Minrin. Tak lama ia mulai menyadari Minrin sudah pergi lumayan jauh. Ia pun menaruh lagi sepatu tersebut dan pergi berlari mengejar Minrin. Namun, ia tak kunjung menemukan gadis itu. Ia pun terus mencari sampai keluar gedung. Untungnya, ia menemuka Minrin sedang berjalan di pinggir taman kota. Ia pun menaruh motornya, lalu berjalan mengikuti Minrin.
"yaakk! Kau kenapa?" teriak Sandeul, tapi Minrin tak menggubrisnya sama sekali. Ia malah mempercepat langkahnya. Melihat Minrin yang berjalan semakin cepat, Sandeul pun mulai berlari dan menahan gadis itu sambil menghela nafas. Ia tatap wajah Minrin, tapi Minrin malah memalinkan wajahnya.
"apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bersikap seperti itu?" tanya Sandeul, tangannya kini meremas pundak gadis itu.
" kau tau, aku benar benar tidak suka tempat seperti itu!" kesal Minrin.
"aish~ masalah itu. Apa tempat itu sangat buruk bagimu?huh"
"aku tidak suka saat orang orang disana memandangiku dengan tatapan aneh~"
"benarkah~tapi aku tidak melihatnya" kata Sandeul enteng, membuat minrin menatap pria itu kesal. "lagi pula, siapa yang perdulh tentang itu? Kau dan mereka tidak ada yang berbeda, kalian sama sama makan nasi kan?" ucap Sandeul, mendengarkannya membuat minrin mengerutkan keningnya.
"hss~ ternyata temanmu benar. Bagaimana bisa orang sepertimu yang anak pejabat bisa berhubunagn dengan pelayan cafe murahan seperti ku" cibir minrin, sandeul membelakkan matanya kesal.
" Yaakk! Aku tidak suka kata kata itu!" marah sandeul.
"aku juga tidak suka kau membawaku ketempat seperti itu!" tegas minrin, sandeul menghela nafasnya.
"baiklah, tidak akan lagi" ucap Sandeul terligat menyesal " aku hanya ingin membelikanmu sepatu, aku tidak suka melihatmu terliht tidak nyaman memakai itu" kata Sanddul polos sambil menunjuk sepatu kets butut yang dipakai Minrin. "awalnya aku ingin memberikanmu ini" ucap Sandeul sambil merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak sepatu, lalu membuknya.
" tapi pasti kau menolaknya karna ini sepatu yang terlalu feminim menurutku.." ucap Sandeul sambil menunjukan sepasang pantopel biru nan manis itu. Minrin tertegun menatap pantopel itu, menurutnya pantopel itu tak kalah cantik dari pada sepatu sepatu yang ada di toko bermerdk tadi.
"mm~tapi mumgkin aku salah, kau sepertinya menyukainya" selidik Sandeul. Tapi minrin malah diam tidak menjawab.
"tenang! Aku mendapatkannya dengan cuma cuma, ini dulu milik eommaku, ketika aku melihat eomma memakai ini ia terlihat sangat cantik...aku ingin sekali melihat mu memakai ini, pasti kau terlihat cantik " tukas Sandeul, membuat minrin tersipu malu. Ia sedikit menyinggungkan senyuman, sambil menahan geli karena Sandeul  jarang melontarkan kata kata manis seperti itu. Tapi berkat kata kata  manis itu membuatnya melupakan kekesalanya pada sandeul. Sandeul juga terlihat sedikht tertawa, tidak percaya bahwa ia telah mengatakan kata gombal itu.
" senang kau sekarang?" sindir Sandeul, sedikit tertawa. Ia lalu berjongkok didepan Minrin lalu melepaskan sdpatu yang dipakai Minrin, dan menggantinya dengan sepatu pantopel biru tadi. Setelah selesai ia berdiri kembali.
"lain kali, pakailah baju yang cocok dengan sepatu itu" ucap Sandeul sambil melirik pakaian Minrin yang bergaya tomboy.
"aku tidak punya baju feminim " aku Minrin
"kau harus punya~" cibir Sandeul.
"eish~" kesal Min rin sambil mengerucutkan bibirnya. Sandeul malah terkekeh.
" oh ya, tadi waktu aku mentertawaimu saat melihatmu keluar dari cafe itu sebenarnya~"
"kau pasti mentertawakan sepatuku iya kan!" delik Minrin memotong pembicaraan Sandeul.
"haha, awalnya begitu.. Tapi setelah aku berfikir kembali, kenapaaa...aku terlalu memperhatikanmu begitu detil, mengapa aku ingin membuatmu nyaman, mengapa aku rela menyia nyiakan waktuku hanya untuk melihatmu di cafe..itu semua karna aku sangat...ehem~ menyayangimu, sepertinya." Sandeul mendesah " baru saja aku menyadarinya" Minrin lagi lagi dibuat Sandeul tersipu malu, hingga wajahnya memerah.
"bagaimama kau bisa membuatku mempunyai tabungan yang besar,karena kau tidak pernah minta dibelikan apa apa olehku, kau juga yang membuatku menolak mobil pemberian appa.. Hanya karna kau tidak nyaman dengan AC, kau tidak suka udara pengap di mobil. Aish~ apa kau memantraiku hinga aku gila padamu seperti ini " ucap Sanddul jujur.
"molla~ kau yang bodoh kenapa bisa menyukai gadis sepertiku" bela Minrin, Sandeul mendelik.
"baiklah, aku akui..aku ini bodoh " ucap Sandeul , Minrin terkekeh " dan~ jangan tinggalkan aku seperti tadi, aku benar benar tidak suka"
"nee~oppa!" kata Minrin sambil tersenyum manis. Sandeul pun tersenyum sambil merapihkan rambut Minrin yang tertiup angin.
"oh ya, aku akan menyimpan sepatu ini, karena sepatu ini kau mampu berkata manis sampai satu paragraf dengan lancar~ " ucap Minrin menyindir.
"eishh~" kesal Sandeul. " simpan saja, lalukan sesukamu.." ucap Sandeul lalu memalingkan wajahnyanya.
~cup~
tiba tiba Minrin mendaratkan kecupan kilat kepipi Sandeul. Sandeul terlihat kaget dan shotck, gadis ini tidak pernah mencium Sandeul selama 2 tahun mereka berpacaran.. Tapi hari ini Minrin memberikamya di pipi Sandeul dengan mulus.
"harusnya kau bilang akan menciumku, jadi aku tidak memalinkan wajahku" kata Sandeul kesal dan Minrintau maksudnya.
"hss~ neo!!" Sandeul terkekeh
~cup~
sekali lagi gadis itu mendaratkan ciuman kilatnya pada Sandeul dan kali ini tepat di bibir Sandeul, sekali lagi Sandeul terlihat shock dibuatnya.
"makanya, lain kali jangan memalingkan wajahmu dariku " ucap Minrin.
"baiklah! Aku tidak akan berpaling dan akan terus memandang ke arahmu!" janji Sandeul di tengah matahari yang sedang meluncur ke ufuk timur.
Dan mereka berdua kini mensyukuri bahwa cinta yang mereka dapatkan merupakan pemberian yang terbaik yamg pernah Tuhan berikan kepada mereka. Dan mereka pun berjanji tidak akan ada kata menyesal atas pemberianNya itu ^^

 
-------------------------------------------------