Author: Mr.awesome
Main cast: Yang SeungHo (MBLAQ), Park SoYeon (T-ARA), Bang CheolYong (MBLAQ), Park Kahii (AS)
Other cast: Park SangHyun (MBLAQ), Lee Changsun (MBLAQ), Jung ByungHee (MBLAQ), Lee JooYeon (AS), Jeong Jihoon, Sandara Park (2NE1), Kim JungAh (AS) And Other
Rating: PG
Length: -
Genre: Romance, Angst
Disclaimer: The Plot of this Fanfic is mine, the characters are all belong to themselves,
Take Me Away Part 3
************************************************************************
Seungho
pov
Setelah ia mengatakan bahwa ia menyukaiku, Soyeon
langsung berlari ke kamarnya. Aku masih duduk terdiam di ruang tamu masih
dengan posisi yang sama, hanya karena perkataan Soyeon tadi.
"AKU
MEMANG MENYUKAIMU!" Ucapnya dengan penekanan yang cukup keras. Aku fikir
apa yg Soyeon katakan itu hanya sebuah
candaan, karna aku juga hanya bercanda tentang apa yang aku tanyakan
padanya. Mana mungkin dia menyukaiku,
menyukai pamanya sendiri itu sungguh mustahil.
Namun,
caranya berbicara, tatapannya.... bukan seperti orang yang sedang bermain main.
Itu yang membuatku bingung, tsk, apa aku salah berbicara kali ini.
Aku
pun beranjak dari tempatku duduk menuju kamar Soyeon. Kurasa pintunya terkunci,
aku pun mencoba mengetuk pintunya.
"Soyeonna!"
seruku tapi tidak ada balasan apapun
"kau
mau makan apa? Biar hyung buatkan" sedikit pun tidak ada suara yang keluar
dari kamar Soyeon. Apa dia marah? Aish, Soyeon akhir akhir ini terlihat lebih
sensitive. Sepertinya aku harus menjaga kata kata dan sikapku di depannya.
-krek-
perlahan
pintu kamar Soyeon sedikit terbuka. Kulihat Soyeon nampak berada di balik
pintu.
"hahaha,
ayo cepat keluar kamar, apa kau mau makan disana?" kataku tergelak. Soyeon
pun membuka pintu kamarnya lebar lebar lalu mengikutiku berjalan ke dapur. Kulihat
ia duduk di tempat yang biasa ia tempati di meja makan. Akupun mulai menyiapkan
bahan dan peralatan masaknya.
"tidak
ingin makan yang lain? Biasanya kau protes kalau aku buatkan kau ramyeon"
kataku sambil mengaduk ramyeon yang sudah setengah jadi.
"tidak,
ramyeon saja cukup" jawabnya singkat, Soyeon sama sekali tidak menatap ke
arahku.
Setelah ramyeon ku jadi, aku pun membawanya
dan menaruhnya diatas meja makan. Soyeon mulai mengangkat chopsticknya dan memakanya
dengan lahap, aku hanya diam duduk didepannya juga sedikit tersenyum karna cara
makanya itu, sepertinya ia belum makan apa apa hari ini.
"
sepertinya kau masih marah pada hyung?" tanyaku, tiba tiba Soyeon berhenti
dari kegiatanya lalu menatapku. Sesaat ia tetap diam, tapi ia pun melanjutkan
makannya tanpa sedikitpun menjawab pertanyaanku.
"bukankah
wajar kalau kau menyukaiku, aku kan pamanmu " kataku, ia tetap pada
posisinya.
"aku
juga menyukaimu...." kataku lalu terhenti karena Soyeon menegakkan
kepalanya, lalu menatapku "ya karna kau keponakanku satu satunya.."
"sudahlah
hyung, aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi, anggap saja aku tidak pernah
bicara tentang hal itu" gerutu Soyeon
"keuraeee..."
kataku lalu kuambil semangkuk ramyeon untukku sendiri. Selintas teringat
sekelebat ingatanku tentang masa kecil Soyeon. Aku selalu bersamanya,
menemaninya bermain di waktu luangku sepulang sekolah.
Soyeon merupakan sosok yang manja dan senang
diperhatikan, apalagi ia merupakan anak satu satunya milik byunghee hyung dan
joyeon nuna jadi pantaslah jika kedua orangtuanya itu akan memberikan apapun
untuk Soyeon. Namun, byunghee hyung dan joyeon noona selalu nengajarkan nilai
nilai positif dalam kehidupannya sehingga Soyeon tidak tumbuh menjadi anak yang
sulit di atur. Dia sangat senang membantu
orang orang disekelilingnya dengan semampunya dan ia tau bagamana
seharusnya ia menempatkan dirinya pada suatu kejadian. Soyeon sering menemaniku
belajar, dia yang akan membawakan ku makanan dan minuman, dia tau kalau
hyungnya ini sedang sibuk makanya ia sama sekali tidak mengajakku untuk
menemaninya bermain.
Seungho
pov end
*
"haah..kau
ingat waktu Doojoon hyung menikah, apa yang kau katakan padaku?" ucap Seungho
yang kembali mengingat kenangannya bersama Soyeon. Soyeon menatap Seungho
penasaran., ia sama sekali tak ingat kejadian itu.
"'saat aku besar nanti aku mau menjadi
pengantin wanita untuk hyung' hahaha, ternyata kau mengatakan yang
sejujurnya" gelak Seungho, dibarengi dengan tatapan kesal Soyeon wajanya
mulai berubah merah jambu.
"hyunnnggg!"
Soyeon bersungut kesal. Tapi sepertinya Seungho menyukainya.
"apa
kau masih ingin jadi pengantin wanitaku?" tanya Seungho sambil membulatkan
matanya di depan wajah Soyeon.
"HYEEOOONNGGGG!"
teriak Soyeon sambil melempar chopsticknya kedepan Seungho, pria itu tertawa
senang. Seungho berhenti tertawa saat iphonenya berdering, ia pun segera
mengambil iphonenya yang ada di meja makan. "yoboseyo?" tiba tiba Seungho
menatap Soyeon "oo, Kahiishi..wae?" Seungho beranjak dari tempat
duduknya.
*
"anyeong
onnie, menyusahkanmu lagi hari ini " sapa Soyeon dengan nada datar pada Dara yang berdiri di ambang pintu. Dara
kini menatap Seungho yang masih berdiri di depan apartemen Dara.
"hehe,
ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini..tolong jaga bocah itu
noona"ucap Seungho sedikit malu karna akhir akhir ini ia lebih sering
menitipkan Soyeon pada Dara.
"tenanglah,
dia jinak ditanganku kok" ucap Dara lalu tersenyum menyeringai.
"baiklah,
aku percayakan pada nuna ya," ucapnya
berterimakasih
"hyoong!
Janji ya tidak pulang larut" seru Soyeon
yang tiba tiba muncul dibelakang Dara.
"tenang
saja aku janji!" ucap sengho, Soyeon akhirnya tersenyum lalu masuk ke
kamar Sanghyun.
"baiklah
noona, aku pergi dulu..."
"heem,
anyeong" Dara melambaikan tangan, Seungho pun bergegas pergi menemui kahii
yang ternyata sudah menunggu di depan gedung apartemen.
"kajja~"
kata Seungho langsung berjalan menuju parkiran. Kahii berjalan di sebelah Seungho
sambil mengimbangi langkah Seungho yang cepat.
"sebenarnya...aku
masih menunggu permintaan maaf seseorang karna telah meninggalkanku sendiri
" cibir Kahii, Seungho tiba tiba berhenti.
"ahh,
ya. Mianhae, tadi aku begitu marah sampai aku lupa pamitan padamu "
sesalnya, Kahii tersenyum.
"haha,
tenang sajalah, aku mengerti keadaanmu"
"baguslah
kalau begitu" kata Seungho datar lalu kembali berjalan.
"ada
apa dengan pria ini? dingin sekali. Tsk" gumam kahii.
#
"sebentar
lagi kita sampai" ucap Seungho memecahkan keheningan yang tercipta di
mobil itu. Sejak awal perjalanan sampai mereka sekarng sudah ada di perbatasan
Hwasun, tidak ada satupun topik yang mereka bicarakan.
Kahii tersenyum saat mereka sudah sampai di
daerah kampung halamannya. Hwasun merupakan salah satu kota di distrik
jeollanam-do yang masih murni dengan adat istiadatnya, pemandangan yang indah
dan rumah rumah hanok yang masih berdiri kokoh dizaman yang serba modern saat
ini. Suasana yang sangat berbeda dengan Seoul.
Seungho
memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah, mereka turun dari mobil dan masuk
kerumah tersebut. Mereka disambut seorang pria paruh baya dan seorang gadis
yang berdiri di sebelahnya.
"hahaha..Kaahii-yaa!
" kahii berlari lalu memeluk pria itu.
"hss,
kau sudah menjadi wanita dewasa sekarang" kata pria itu lagi sambil
membelai rambut kahii, lembut.
"ahjussie
juga sudah menjadi kakek kakek sekarang" ucap kahii terkekeh. Kahii
menatap gadis yang berdiri di belakanng Jinyoung Ahjussie.
"anyeong
soheeyaa, sudah lama tidak bertemu" ucap kahii tersenyum ramah pada sohee,
begitupun sohee.
"ahh,
Seungho ya!!" seru Jinyoung saat melihat Seungho berdiri tak jauh darinya.
Jinyoung langsung memeluk Seungho.
"apakabar
ahjussie.." kata Seungho menundukan sedikit kepalanya.
"ahh,
kau semakin tampan,dimana Soyeon?" tanya Jinyoung
"Soyeon
tidak bisa ikut hari ini"
"tsk,
pdahal aku sangat ingin bertemu dengan bocah itu, dia selalu memenuhi rumahku
dengan suara tertawanya dan aegyeonya itu, aku sangat rindu padanya.."
kenang Jinyoung "bagaimana kabarnya?"
"semakin
hari kondisinya semakin baik, sekarang dia sudah jarang menangis dan lebih
sering bergaul dengan temantemannya, itu sangat membantu" papar Seungho.
"hssk,
awalnya aku sangat khawatir padanya semenjak hari itu aku selalu mendengar
kabar buruk tentangnya, saat itu aku hanya bisa menangis..dia masih sangat
kecil, tapi aku senang kalau memang kabarnya semakin baik.." kata Jinyoung
sambil tertawa.
"5
tahun ini, Soyeon sudah menjalani terapi, kemungkinan dia akan sedikit lupa
tentang ahjussie"
"tak
apa, yang penting dia baik baik saja..aku sudah senang," Jinyoung
tersenyum lembut, ia merasa sedikit lega dihatinya. Ia sudah menganggap Soyeon
seperti cucunya sendiri, dan ia juga terlalu sayang pada Soyeon. "ayo
masuk.." mereka pun masuk kesebuah ruangan. Seperti ruang tamu biasanya,
hanya yang ini dihiasi dengan aksen aksen tradisional korea.
"untuku,
ini merupakan tempat terbaik untuk menenangkan diri...sudah hampir 5 tahun
disini, tapi kenyataannya aku belum merasa tenang sepenuhnya.." jelas Jinyoung
dengan mata nanar, sambil menerawang seisi ruangan tersebut.
"kami
tau, kau tau sesuatu tentang pembunuhan itu, makanya kami datang ke sini
ahjussie.." jelas kahii langsung tothepoint ke inti masalah.
"hem,
aku sudah tau dari awal kau menelponku kembali, setelah 4 tahun menghilang
tidak pernah kembali kesini. Pasti dengan maksud tertentu.." Jinyoung
terkekeh.
"kami
mohon ahjussie membantu kami.." pinta Seungho, ia menunduk lagi.
***
seorang pria paruh baya duduk di balkon
rumahnya di salah satu kursi kesayangannya, tempat ternyaman yang ia punya di
rumahnya itu. Ia terus tersenyum sambil menghirup kesegeran uDara yang tercipta
di pengawal musim semi tahun ini. Sesekali ia menyeruput secangkir teh hangat
di depannya. Ia terperangah ketika seorang anak lelaki masuk ke halaman
rumahnya, anak itu berjalan dengan riang tak lupa senyuman yang terus mengembang
diwajahnya.
"chulyeongaa?"
seru pria paruh baya itu. Anak lelaki yang bernama chulyeong itu berhenti dan
berdiri di depan pria itu.
"nee
abeoji?" tanya chulyong masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"ada
apa denganmu hari ini?" tanya Lee Changsun, pria paruh baya itu yang
merupakan abeoji dari chulyeong.
"aniio,
hanya senang saja..kau sendiri sedang apa?" tanya chulyeong lalu duduk di
kursi di sebelah abeojinya itu.
"hanya
sedang merasakan udara segar disini, jarang sekali di siang hari udara masih
terasa sejuk. Oh ya, kau tidak akan menceritakan pada aboji apa yg kau lakukan
hari ini?"
"mmm,
aku malu menceritakanya"
"hahaha,
apa ini tentang yeoja yang kau suka? Apa kau sudah berkencan dengannya?"
selidik changsun yang curiga dengan tingkah anaknya ini.
"yaaa...kurang
lebih seperti itu.." kata chulyeong sambil menggaruk garuk kepalanya.
"jadi,
siapa yeoja itu?" chansung penasaran, karna chulyong tidak pernah cerita
mengenai yeoja yang ia sukai di sekolah.
"namanya..."
belum chulyeong menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba seorang pria masuk ke
halaman rumah chansung dengan langkah yang tergesa gesa, wajahnya juga terlihat
cemas. Ia berdiri tepat di hadapan chansung, lalu ia membungkuk memberi hormat
pada chansung terlebih dahulu.
"museun
iriya, Jinon~shi?" tanya chansung yang ikut penasaran dengan ekspreri
Jinon, ajudan terpercayanya.
"sepertinya
kita harus bicara empat mata, hyung" ucap jinon, secara tidak langsung ia
meminta chulyong untuk membiarkan ia berbicara pada chansung.
"keuraee...aku
ke kamar dulu" seru cheolyeon yang sudah mengerti kondisi seperti ini.
Chulyong pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Chansung dan Jinon
di balkon.
"baiklah,
ada apa?" ucap Chansung membuka topik pembicaraan.
"seseorang
melaporkan mengenai kabar terbaru dari Kahii, anak Jihoon hyung" seketika
chansung menatap Jinon serius. "Ia bekerja sama dengan Seungho, kau pasti
tidak lupa dengan Seungho kan hyung?"
"hmm"
respon chansung seraya menganggukan kepalanya.
"Seungho
merupakan salah satu pengacara muda yang sudah diperhitungkan hasil kerjanya,
dan dia sekarang bekerja untuk kahii.." jelas Jinon. Kini chansung menatap
pada satu titik dengan wajah yang serius tapi tetap terlihat tenang.
"kudengar
mereka hendak membuka kembali perkara itu hyung..." lanjut jinon, dan kini
ia telah menyelesaikan laporannya.. Kini ia menunggu tanggapan dari Changhyun
yang masih terus berfhkir.
"panggil
perwakilan distrik Hwasun, temui aku jam 8 malam ini" ucap Changsun
singkat.
"arraseo
hyung" ucap jinon tegas. "mmh, hyung boleh aku pinjam toiletnya.?
" kata jinon tiba tiba meringis,
chansung hanya tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
"ahh,
gumaweo hyung!" seru jinon langsung menyambar berlari menuju pintu masuk.
Ia seketika berhenti saat memilihat seseorang berdiri di dekat pintu.
"cheolyongaaaa,
apa yang kau lakukan?" tanya jinon bingung, wajah chulyong gelisah
dan berkeringat. "apa kau
sakit?"
"a..a..anii"
ucap chulyong gelagapan dan langsung berlari menuju kamarmya. Jinon menaikan
satu alisnya, bingung.
***
"aku
tidak pernah membayangkan, persahabatan mereka bisa berubah menjadi seperti
ini.." papar Jinyoung, memulai ceritanya. Seketika ruangan itu menjadi
hening.
"dulu
mereka begitu kompak, bahkan mereka menyebut persahabatan mereka seperti 3 beruang"
Jinyoung tersenyum kecut.
"jihoon,
yang paling tua diantara mereka, appa beruang, yang selalu menjadi pemimpin
yang baik, pembuat keputusan, byunghee dia pintar dalam memasak makanan maka
dia eommanya, dan pria itu....pria yang penuh aegyeo dulunya, sangat penggertak,
manja, persis anak beruang"
"sejak
kecil mereka tumbuh bersama, hingga mereka dewasa pun, mereka terus bersama..
Byunghee yang terbilang cerdas lulus cumlaud dalam bidang hukum yang ia jalani,
hingga menjadi pengacara yang menjadi banyak pilihan orang. JiHoon melanjutkan
perusahaann appanya dibantu oleh pria itu Changsun, mereka bertiga sukses"
Kahii dan Seungho saling bertatapan ketika Jinyoung mengucapkan nama
'Changsun'.
"tapi
persahabatan itu tidak terlalu berjalan mulus setelah masing masih dari mereka
telah mendapat gelar, dan ketika kisah cinta lama mulai teringat kembali,
menurutku itu penyebabnya" seketika Jinyoung menatap Kahii.
"kisah
cinta?" tanya wanita itu bingung.
"eomma
mu, itulah masalahnya..." lanjut Jinyoung, kahii menatap tajam pria paruh
baya itu. Apa yang dimaksudkan Jinyoung? Kahii benar benar tidak menerti.
"Park
Yuna, eommamu, merupakan cinta pertama Changsun, saat SMA mereka pernah
menjalin hubungan tersembunyi namun putus saat Yuna berniat untuk pindah ke
Seoul, dan ketika ia bisa bertemu Yuna lagi, saat Yuna sudah hendak bertunangan
dengan Jihoon. Sejak saat itu hubungan Chansung dan Jihoon terlihat kurang
baik"
"dan
setelah kau lahir, ntah mengapa hubungan keduanya mulai membaik, bahkan Jihoon
hendak memberikan salah satu cabang perusahaanya pada Chansung, salah satu
impian Chansung yang benar benar ia ingini. Namun. Suatu hari Jihoon cerita
padaku, bahwa Yuna mengandung lagi lalu matanya berkaca kaca dan bilang 'tapi
itu bayi Changsun' "
seketika
Kahii terenyak, mendengar penjelasan Jinyoung tadi. Antara percaya atau
tidak, ia benar benar merasa hatinya
sakit. "apa eomma benar benar melakukan itu pada appa?" batinnya
lirih.
"appamu
benar benar marah dan meminta Yuna untuk
menggugurkannya ke Jepang, dan membatalkan pemindahan kepemilikan perusahaanya
kepada chansung dan memberikannya pada byunghee"
"tapi
byunghee hyung tidak menerimanya.." potong Seungho.
"ya,
byunghee terlalu mencintai pekerjaanya sebagai pengacara, dan ia terlalu sayang
pada Changsung, jadi ia tidak menerimanya"
"kahii
shii, apa kau ingat apa yang terjadi di Jepang?" tanya Jinyoung serius.
Kahii
terdiam tidak menanggapi pertanyaan Jinyoung, matanya berkaca kaca.
"bukankah
kau ikut tinggal setahun dijepang?" tanya Jinyoung lagi.
"ahjussi..saat
itu aku masih 3 tahun, bagaimana aku bisa ingat, yang aku tau hanya bermain,
sekarang aku baru sadar kenapa perut eomma terus membesar, dan tiba tiba perut
besar itu hilang.." tiba tiba matanya membulat "omo, kau bilang eomma
menggugurkannya? Tapi kenapa selama dijepang ia membiarkan perutnya semakin
membesar?" Jinyoung tersenyum.
"setelah
11 tahun eomma mu meninggalkan jepang rahasia itu mulai diketahui Jihoon tanpa
sepengetahuan Yuna, saat itu dia hanya memberitahuku,ia benar benar kecewa
ternyata anak Changsun dibiarkan hidup, saat itu aku hanya tau kalau Jihoon
akan memecat Changsun dan hari itu Jihoon ditemukan tewas di ruang
kerjanya"
"jadi
menurutmu Changsun yang membunuh appa ku??"
"aku
tidak tau, tidak ada saksi mata karena saat itu sudah jam pulang kantor, tidak
ada tanda tanda aneh dari cctv di daerah ruang kerja Jihoon, kalian juga tau
itu.."
"sehari
setelah itu byunghee datang kepadaku, wajahnya kacau sangat terlihat sedih dan
yang membuat aku kaget dia bilang kalau dia tau siapa pembunuhnya,"
"tapii
saat ia ditanya oleh pihak polisi, ia bilang tidak tau apa apa, dan hari itu
ahjussie ke kantor appa hanya karna ada sedikit urusan dengan appa"jelas
Kahii merasa kebingungan.
"dia
bohong, dan menutupi semuanya"
"yang
aku tau sebelum hari itu dia sedang sibuk mengurusi pembuatan cctv untuk
ruangan Jihoon hyung, kalau tidak salah hal ini mengenai pengamanan brangkas di
ruangan pribadi Jihoon hyung" kini Seungho yang memberikan pernyataan.
"ya,
hari itu ia datang untuk memasang cctv itu, hanya mereka berdua yang tau akan
hal ini. "
"apa
byunghee ahjussie menyimpan semua rekaman itu??"
"sepertinya
iya, karna ia bilang kalau ia akan memberitau yang sebenarnya nanti, setelah ia
memastikan bukti yang ia temukan..namun sebelum ia memberikan rekaman itu pada
kepolisian, ia sudah ditemukan tewas bersama jooyeon" tuntasnya, lalu
menatap Seungho yang sedikit tertunduk.
"dia
tidak pernah cerita tentang hal itu, " jelas Seungho.
"setelah
itu Changsun Ahjussie tetap memegang perusahaan cabang gyeonggi, apa itu tidak
mencurigakan?" terka Kahii.
"jangan
dulu mengambil kesimpulan. Walaupun memang diantara mereka bertiga aku tidak
terlalu dekat dengan changsun..tapi aku
tidak yakin kalau dia yang melakukannya" kini Jinyoung menghela
nafas panjang.
"semua
orang tidak ada yang tau tentang hal anak itu, termasuk aku hss" keluh
Kahii menyinggung masalah ‘adik tiri’nya yang ternayata dibiarkan hidup.
"appamu
sengaja menyembunyikannya, tidak mungkin ia membongkar aib istrinya
sendiri...oh ia bagaimana kabar ibumu?"
"dia
baik..tapi sekarang sekarang aku sudah jarang untuk menjenguknya.." ucap
Kahii, setelah itu keadaan di ruangan itu terasa hening. Tiba tiba Seungho
berdiri beranjak dari tempatnya.
"eodiga??”
"aku
akan ke rumah hyung mencari bukti" jawabnya, kebetulan rumah Byunghee
tidak terlalu jauh dari ruma Jinyoung, hanya berbatas beberapa blok, bisa
dibilang mereka masih ada dalam satu desa.
"tapi
ini sudah malam, apa yang bisa kau temukan malam malam begini?" ucap Jinyoung.
"malam?
Apa sekarang sudah malam?" tanya Seungho kaget, ia lupa akan janjinya pada
Soyeon.
"haha,
kau terlalu serius mendengar ceritaku ya?
Bermalamlah disini besok baru kau pergi kerumah byunghee" jelas Jinyoung
lalu masuk kekamarnya.
"Baiklah.."
ucap Seungho. Ia pun meraih ponselnya dan memencet beberapa tombol di hapenya
itu.
"ohh,
Dara noona..ehm, hari ini aku tidak akan pulang, tolong beri penjelasan pada Soyeon,
aku masih ada di Hwasun,"..."tenanglah aku hanya mengunjungi sauDara
disini........anii, jangan berikan telponnya pada Soyeon, ia pasti akan merengek,
baiklahh..aku pulang besok, gumaweo Noona!"
-bip-
Seungho
mengakhiri pembicaraannya.
***
[ERIC
BENET - STILL WITH YOU]
Bel apartemen Dara berbunyi dengan suara
nyaring. Mengagetkan Dara dan Sanghyun yang sedang asik menonton. Dara
mengisyaratkan Sanghyun untuk bergegas melihat siapa yang datang. Dengan malas Sanghyun
berjalan menuju layar monitor di dekat pintu. Ia memijit salah satu tombol
dilayar tersebut, munculah gambar Seungho dilayar monitor itu.
"ahh,
hyung" ucap Sanghyun sambil menekan tombol yang lainnya, lalu terdengar
suara pintu terbuka.
"Anyeong,
belum tidur Sanghyunii?" sapa Seungho.
"sekarang
masih pukul 8 malam hyung, pria sejati tidak akan tidur pada jam segini,"
ujar Sanghyun polos, Seungho tergelak. Mereka berduapun masuk ke ruang tamu, Seungho
langsung duduk di salah satu sofa disana.
"bawa
apa?" tanya Dara saat melihat Seungho membawa satu kantong plastik besar.
"taadaa..semangka!"
celetuk Seungho, Sanghyun dan Dara sama sama menunjukan tatapan
kau-pasti-bercanda Pada Seungho.
"kau
sudah memberiku 3 semangka minggu ini" ucap Dara, kesal.
"berarti
akan ada 4 semangka kali ini" kata Seungho."anak itu tidur?"
tanya Seungho seraya menyebarkan pandangannya kepenjuru apartemen.
"dia
sudah tidur dari pukul 6 tadi, sepertinya ia kelahan, tau kau tidak akan pulang
moodnya langsung hilang, lalu Sanghyun
membawanya ke taman sambil bermain
sepeda"jelas Dara. Seungho langsung masuk ke sebuah kamar dimana Soyeon
tidur. Kamar dimana Soyeon selalu menggunakanya jika ia harus menginap disana.
Seungho tersenyum menatap Soyeon yang
sangat tenang dalam tidurnya. Karena ia tidak berani untuk mengganggu
ketenangan itu,"ahhh mianhae Soyeona, aku benar terlambat" iapun
mengangkat Soyeon dan menggendongnya keluar kamar.
"aku
pulang nuna..maaf sudah merepotkanmu."ucap Seungho dengan Soyeon
digendonganya.
"tidak
tidur disini saja?" tawar Dara
"tidak,
Soyeon besok harus masuk sekolah" ucap Seungho seraya berjalan menuju
pintu apartemen.
"keudae,hati
hati"
"nee"
Seungho melangkah dengan hati hati agar Soyeon
tidak terbangun. Jarak antar apartemennya tidak terlalu jauh dari apartemen
milik Dara, hanya melewati beberapa kamar saja. Tiba tiba Soyeon mengerang, ia
mengerejapkan matanya lalu mengangkat wajahnya. Dilihatnya wajah Seungho yang
sedang menggendongnya itu.
"ahh,hyung"
gumam Soyeon dengan suara sedikit parau khas orang yang baru bangun tidur.
"aa~
sudah bangun?"tanya Seungho, tapi Soyeon tidak menjawab apa apa.
"kau
terlambat hyung" ucap Soyeon pelan, Seungho menunduk lalu menatap wajah
gadis itu bingung.
"..................?"
"hyung
terlambat!" ucap Soyeon dengan nada memaksa, lalu menepuk dada Seungho
sedikit keras. Sontak Seungho menunduk lagi dan menatap Soyeon. Gadis itu malah
menutup matanya dan terus merapatkan tubuhnya ke dada Seungho. Seungho hanya
bisa tersenyum geli. Apa yang Soyeon lakukan tadi siang, sampai ia kelelahan
dan mengigau seperti ini, fikir Seungho.
Setelah sampai di apartemennya, Seungho
langsung membawa Soyeon ke kemar gadis itu dan membaringkannya diranjang. Tak
lupa ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut, Soyeon tampak nyaman tidur
dikamarnya sendiri.
"Hyeooongggg"
panggil Soyeon, Seungho yang hendak meninggalkan ruangan itu langsung berbalik
dan berdiri di samping ranjang Soyeon.
"mmm?"
"apa
ramennya sudah matang??" ucap Soyeon masih dengan suara parau. Seungho
mengerutkan dahinya, bingung.
"ini
sudah malam, hyung tidak memasak ramen" jelas Seungho pada Soyeon yang
masih setengah sadar itu.
"eng??...keuraee,
aku akan bangun 5 menit lagi ya.. Aku..malas sekolah hari ini" lantur Soyeon.
"ya!
Apa kau mengigau? Tsk.. Apa yang Sanghyun lakukan pada mu hingga kau jadi
seperti ini?" ucap Seungho kesal. Soyeon diam kembali, Seungho pun
memutuskan untuk meninggalkan kamar Soyeon.
"hyeoong?"
panggil seyeon lagi, Seungho yang sudah sampai di ambang pintu pun berbalik
dengan kesal.
"hss,
mwoo?"
"hyung
sudah pulang?" tanya Soyeon, matanya terbuka lebar.
"apa
kau sudah sadar?" tanya Seungho memastikan kalau Soyeon tidak mengigau
lagi.
"nee?!"
Soyeon mengerinyitkan matanya tidak mengeri. "mmm, hyung...aku tadi
bermimpi.." ucap Soyeon dengan nada lirih.
"apakau
bermimpi menyuruhku masak ramen?" cibirnya sambil berjalan ke ranjang Soyeon
lagi.
"annii...aku
memimpikan appa juga eomma.." ucap gadis itu dengan mata berbinar.
Seketika Seungho terdiam lalu ia berlutut di sebelah ranjang Soyeon.
Mengusahakan wajahnya sejajar dengan wajah Soyeon, agar Soyeon lebih tenang dan
nyaman. Inilah yang dipelajari Seungho dari dokter jung -psikiater Soyeon,
disaat saat seperti ini.
"benarkah?"
tanya Seungho. Soyeon mengangguk sambil tersenyum.
"mmh,
aku sedang duduk di ayunan. Ayunan yang appa buat khusus untukku waktu umurku 5
tahun, kau ingat?" Seungho mengangguk "lalu, appa eomma datang, appa
berdiri di depan ku, sedangkan eomma berdiri
agak jauh dariku. Apa berkata padaku 'anyeong uriprincess, apa harimu
baik hari ini?' lalu aku jawab 'nee.. Sangat baik' lalu ia bertanya
'gwaenchana?' lalu aku jawab 'keuroom, na gwaenchana, appa gwaenchana?' lalu
appa malah menggelengkan kepalanya..." Soyeon berhenti sejenak untuk menarik
nafas " ia bilang kalau ia sangat menghawatirkanku aku pun bilang pada
appa bahwa aku benar benar tidak apa apa, hyung selalu menjagaku jadi jangan
khawatir, lalu dia bilang bahwa aku harus terus mendengarkan hyung, terakhir ia
bilang 'Soyeoniiim......! appa......eomma.... neomu bogoshippo' lalu aku
jawab..." satu tetes air matanya jatuh diatas bantalnya
"nadoo..appa,
nado neomu neomu neomu neomu neomu neomu neomu neomu
bogoshipo..hss"lanjutnya lalu mengatur nafasnya dan menahanan tangisnya
keluar.
"lalu
apa yang terjadi?"
"hsss...appa
dan eomma tersenyum lalu masuk ke rumah dekat ayunan, rumah kita waktu di
Hwasun.. Lalu aku tidak melihat mereka lagi hyung.." Soyeon terus menahan
tangisannya, tapi air matanya terus turun butir demi butir. Hingga Soyeon mulai
menangis kecil. Tapi Seungho mulai membelai rambut Soyeon dan menatap mata Soyeon
lekat lekat.
"appamu
pasti senang karna tau sekarang kau tumbuh menjadi gadis yang ceria, maka
tumbuhlah terus seperti itu"
"tapi,
hyung.. aku takut kau juga meninggalkanku, seperti appa dan omma.." ucap Soyeon
lirih.
"tenang,
hyung disini. Tidak akan sekalipun hyun meninggalkanmu.."ucap Seungho
sambil menatap Soyeon lekat lekat, Soyeon ikut tersenyum. Sesaat Soyeon menutup
matanya dengan memaksa, mencoba untuk menahan air mata yang menumpuk di pelupuk
matanya.
"hey..apa
kau menangis?" tanya Seungho, Soyeon hanya menggeleng masih menutup
matanya.
"baiklah,
aku biarkan kau menangis kali ini" Seungho naik ke ranjang dan berbaring
di sebelah Soyeon. Seketika Soyeon langsung membenamkan wajahnya di dada Seungho.
Seungho pun memeluknya sedemikian rupa agar Soyeon merasa lebih tenang. Hal ini
sering terjadi di saat saat tertentu, dimana Soyeon kembali teringat tentang
kejadian suram yang menimpa keluarganya itu. Biasanya Seungho memanggil Jung
Ah, psikiater yang menangani terapi Soyeon yang merupakan teman lama Seungho.
Tapi semakin lama, Seungho mulai mengerti bagaimana menangani trauma Soyeon
sehingga ia akan memanggil Jung Ah disaat tertentu saja atau sekedar kontrol. Seungho
tetap membiarkan Soyeon berada didekatnya sampai gadis itu terlelap.
***
"matamu
bengkak," ucap Jiyeon sesampainya Soyeon ke kelas. Ia menggembungkan
pipinya, dan mulai mencubit pipi Soyeon. Soyeon hanya menatap sahabatnya itu
dengan sayu. Hari ini semester baru dimulai, hari ini juga merupakan hari ulang
tahun Jiyeon. Namun, Soyeon malah datang dengan wajah yang sembab.
"ayolah,
jangan begini di hari ulangtahunku...ayo terrenyum" Jiyeon meletakan
telunjuknya di sudut bibir Soyeon lalu menariknya keatas, membuat bibir Soyeon
berbentuk senyuman.
"mianhae,
dihari ulangtahunmu aku malah begini," Soyeon tersenyum kecut.
"gwaenchana,
asal kau berjanji tidak seperti ini lagi,araseo!" kata Jiyeon sambil
tersenyum simpul. Soyeon mengangguk lalu memeluk sahabatnya itu.
"saengil
chukahae Jiyeonna!" ucap Soyeon lalu mempererat pelukannya.
"gumaweoo"seketika
Jiyeon lalu mendorong Soyeon "mana kadoku?" katanya lalu membuka
telapak tangannya.
"mmm,
sebenarnya aku sudah mempersiapkannya, tapi aku lupa membawanya" ucap Soyeon
perlahan lalu sedikit terkekeh.
"nappeun
neo! Masa bisa lupa? Hss"
"mian,
aku benar benar meninggalkannya di meja belajar tadi pagi "
"sebagai
gantinya kau harus menemenaku hari ini keudae, kau harus mau!"
"keudae,
karna ini kesalahanku jadi aku harus menurutimu hari ini.."Soyeon pasrah.
"choa.,goodboy"
kata Jiyeon lalu menepuk kepala Soyeon.
"YAK!"
***
"eodigaa??"
tanya Soyeon bingung saat Jiyeon menariknya sampai ke jalan setapak di depan
deretan pertokoan.
"ttarawa..."
kata Jiyeon masih terus berjalan sampai ia berhenti di depan sebuah toko. Ia
menatap seorang namja yang berdiri tak jauh dari mereka. Tanpa sepengetahuan Soyeon,
Jiyeon mengedipkan matanya pada namja itu, namja tersebut tertawa lalu
mengacungkan jempolnya.
"nuguya?"
tanya Soyeon saat ia menyadari sahabatnya itu terus menatap seorang namja tadi.
"OPPA!!"
seru Jiyeon lalu berlari ke arah namja itu. Soyeon bengong lalu berjalan
mengikuti Jiyeon.
"Dongwoon
Sunbae?" kaget Soyeon saat ia melihat bahwa namja itu dalah Dongwoon.
"anyeong
Soyeona!" sapa Dongwoon, terlihat Jiyeon langsung menghampiri Dongwoon
lalu memeluk tangan Dongwoon dengan manja.
"oppa,
kenapa bisa ada disini?" tanya Jiyeon.
"sebenarnya
aku hendak membelikanmu sesuatu tapi aku bingung, bagaimana kalau kau yang
memilih sendiri..."
"keuraae!
" Jiyeon tersenyum manis "Soyeonna, karna ada Dongwoon oppa, kau
boleh pulang sekarang, anyeongg" kata Jiyeon lalu menggandeng tangan Dongwoon.
Soyeon melongo, menatap punggung sahabatnya itu yang sudah pergi menjauh.
"YAKK!!"
teriak seseorang di sebelahnya, sontak ia langsung menoleh kearah suara itu
tercipta.
"
Ya! SON DONGWOON! " teriak namja itu lagi."aissh.." desahnya
saat Dongwoon tak kunjung merespon panggilannya.
"cheolyong
sunbae?" terka Soyeon. Chulyong lalu menoleh dan kaget saat melihat Soyeon.
"Jung
Soyeon..kenapa kau disini ?" kaget Cheolyong, lalu Soyeon menunjuk Jiyeon
smbil mengerucutkan bibirnya.
"Jiyeon
memintaku untuk menemaninya, lalu..yah beginilah jadinya" jelas Soyeon
terlihat kecewa. Sesaat Cheolyong mulai
menyadari kenapa tiba tiba Dongwoon memintanya untuk menemani namja itu kesini,
dan sekarang dia malah meninggalkannya berdua dengan Soyeon.
"aissh.."
desah Cheolyong.
"wae?"
"aniio..jadi
sekarang kau mau kemana?"
Soyeon
memutar bola matanya, " sepertinya aku akan pulang saja, sunbae sendiri
bagaimana?"
"baiklah,
aku antar kau pulang.." ucap cheolyong lalu menatap Soyeon meminta persetujuan.
"aaa,
tidak usah, aku pulang sendiri saja kok"
"
gwaenchana, aku sedang ingin jalan-jalan..kajja" katanya, lalu menarik
lengan Soyeon.
***
"aigoo,
mereka benar benar cocok" ucap Jiyeon berdecak kagum. Mereka tidak benar
benar pergi membeli hadiah, bahkan mereka benar benar tidak menjalin hubungan
khusus, mereka melakukan ini agar mereka punya alasan untuk membuat kedua
sahabatnya itu bisa mengenal satu sama lain. Setelah meninggalkan Cheolyong dan
Soyeon, mereka berdua berdiam di salah satu cafe sambil memantau, apakah
rencana mereka berjalan dengan baik atau tidak.
"heem,
kajja..kita juga lanjutkan kencan kita" kata Dongwoon mantap lalu meraih
tangan Jiyeon .
-plakk-
seketika pria itu merasakan hentakan yang cukup membuat lengannya memerah.
"yaaak!
Jiyeonna appooo!" Dongwoon merengek manja.
"aish!
Ingatlah, kita cuman akting! CUMA AKTING!" ucap gadis itu memperjelas kata
katanya.
"araseo!!"
***
Chenlyong dan Soyeon, mereka berdua
berjalan diantara jalan dan pertokoan, menyusuri jalan setapak yang cukup ramai
dilewati orang. Suara riuh pikuk orang ramai itu sukses membuat mereka bungkam
seribu bahasa. Hanya menikmati
perjalanan mereka dan kadang tersenyum satu sama lain. Langkah mereka terhenti saat melewati konter
koran, dimana orang orang berebut koran
yang menyajikan berita terbaru hari ini.
"aau.."
rintih Soyeon saat ia tidak sengaja terdorong oleh seorang pria yang baru saja
membeli koran, seketika Cheolyong meraih lengan Soyeon dan menahannya agar
tidak jatuh.
"hati
hati.." cheolyong mengingatkan. "gwaenchana?"
"hmm,
gwaenchana" mereka saling bertemu pandang dan tersenyum.
"apa
Dongwoon sunbae menceritakan tentang hubunganya dengan Jiyeon?" tanya Soyeon
memecahkan keheningan.
"itu
yang aku bingungkan, dia sama sekali tidak bicara"
"Jiyeon
juga begitu, aku jadi panasaran..ckck"
"oh
ya, soal waktu itu, apa hyungmu marah?"
"ahh,tidak..
Hanya ada sedikit kesalahpahaman"
"oh
syukurlah, aku fikir hyung mu marah karena melihatmu denganku.." ucap
cheolyong yang kini membuat Soyeon menatap namja itu. Ia sedikit suka dengan
kata 'hyung marah karna aku bersama chulyong?'
"mungkinn.."
ucapnya pelan lalu mulai tersenyum.
"benarkah?"
"eeh?
Anio.. Bukan itu masalahnya tenanglah"
"ooh,baguslah..."
Mereka terus berbincang hingga memasuki
jalanan sepi, cukup hening tapi mereka tak menyadari itu karna perbincangan
mereka.
-WUSSSH-
Sebuah mobil melintas dengan kecepatan
tinggi hanya berjarak beberapa senti dari tubuh Soyeon. Beruntung, Cheolyong
langsung menarik tubuh gadis itu ke sisi jalan. Kalau tidak mungkin kaca spion
mobil itu akan mengenai tubuh mungil Soyeon.
Soyeon
shock, wajahnya pucat pasi dan Nafasnya terengah. "gwaenchana?" ucap
Cheolyong, ini sudah kesekian kalinya chulyong menghawatirkannya. Namun, Soyeon
tetap diam.
"barusan
itu...dekat sekali" ucap Soyeon sedikit terbata.
"untung
saja..."
"ya,
untung saja.." syukur Soyeon, tanganya meraba bagian lehernya mencari
sebuah liontin yang tergantung di kalungnya. Tapi ia tidak merasakan keberadaan
kalungnya itu. Langkahnya terhenti.
"wae?"
tanya Chulyong saat menyadari Soyeon tidak berjalan bersamanya lagi. Seketika
ia menghampir Soyeon dengan wajah panik
tersirat di wajah Soyeon.
"kalungku
hilang!"
"mwo?
Kalung?" Soyeon mengangguk,
"kalungku,
sunbae!" mata Soyeon berair.
"baiklah,
kita cari" kata Chulyong lalu menyebarkan pandanganya keseluruh jalan.
"bagaimana
bentuknya?"
"rantainya
perak lalu ada liontin kepingan berbentuk bulat" jelas Soyeon pada
Chulyong yang sedang berjongkok mencari kalung itu.
"Seperti
ini?"
Chulyong
mengangkat sebuah kalung dengan bentuk yang sama dengan penjelasan Soyeon tadi.
Cepat-cepat Soyeon langsung mengambil aenda itu di tangan Chulyong. Setelah
mengamati beberapa saat Soyeon pun mengangguk mantap sambil tersenyum.
"gumawooo
sunbae!!" sahutSoyeon, eyesmilenya tampak jelas terlihat.
Tanpa
Chulyong sadari ia sudah terpesona dengan senyuman itu, senyuman yang paling
iya sukai.
"kalung
ini pemberian terakhir dari appaku, aku sangat sangat sangat berterimakasih
padamu.." ucap gadis itu masih dengan senyuman yang merekah diwajahnya.
"appa?"
tanya chulyong tiba tiba menjadi kaku "memang kenapa appamu?"
"3
hari sesudah ia memberikan kalung ini, dia meninggal.." ucap Soyeon
tersenyum kecut.
Chulyong
menatap gadis itu "jeongmal?..ahh mi..mian"
“gwaenchana..”
ia tersenyum "dia bilang aku harus menjaga kalung ini, jangan sampai
hilang atau memberikannya pada siapapun, sekalipun itu Seungho hyung"
lanjutnya "karna kau sudah menolongku, aku akan mentraktirmu
makan..otte?"
***
"apa
sih yang orang bicarakan?" gumam Soyeon ditengah acara makannya dengan
cheolyong. Cheolyong ikut heran sambil memperhatikan sekitarnya. Sedangkan Soyeon
serius memandangi sekumpulan ibu ibu yang sedang bergosip.
"kok
bisa seperti itu ya?"
"ya,
benar. Rumah mereka berdua yang ada di Hwasun benar benar hangus terbakar, ini
sangat misterious"
"lebih
anehnya kenapa hanya dua rumah itu yang terbakar..."
"Soyeon
na?" sahut Cheolyong pada Soyeon yang sangat serius dengan pembicaraan
ahjuma ahjuma itu, Soyeon terenyak beberapa saat.
"an..anio,
aku sedikit memiliki perasaan aneh.." ucap Soyeon sambil memperhatikan
sekitarnya dengan perasaan cemas.
"wae?
Apa tentang berita itu?"
"entahlah,
mereka membicarakan Hwasun, dulu aku tinggal di Hwasun. Itu tempat tinggal
orantuaku," Jelas Soyeon.
"wow..sama,
orangtuaku juga dari Hwasun," kata Cheolyong tersenyum simpul, diikuti
senyuman dari Soyeon.
"OMO,
Lihat! Ada beritanya di TV!" Seru seorang pelanggan yang kaget sambil
menunjuk sebuah TV yang sengaja di sediakan pemilik kedai ini untuk pelanggan.
Seketika ruangan hening dan semua pandangan tertuju pada TV yang hanya
berukuran 19" itu. Semua orang diam termasuk Soyeon dan Cheolyon.
"
~~~~ sampai berita ini disampaikan, pihak kepolisian masih terus berusaha untuk
mencari siapa pelaku dari pembakaran rumah seorang pengusaha terkenal ini
beserta rumah rekannya yang dulu bekerja sebagai pengacara sekaligus penasehat
presiden itu ~~~~ " TV itu
menayangkan rekaman rumah yang terbakar itu. Saat ditayangkan sebuah rumah yang
sedang dilahat sijago merah itu, Soyeon tiba tiba tersadar. Apalagi saat
melihat sebuah ayunan yang terbakar di depan rumah itu.
Mata
Soyeon membulat, mulutnya mengatup. Tiba tiba ia sulit bernafas. "hyunggg"
gumam Soyeon langsung lari berhamburan ke luar kedai itu. Bingung, cheolyong
ikut meninggalkan kedai itu dan mengejar Soyeon yang tengah berlari.
"SOYEONN!"
ucap Cheolyong saat ia berhasil menahan pundak yeoja itu. "wae??"
lanjutnya dengan nafas yang terengah.
"kau
tau! Salah satu rumah yang terbakar tadi...Itu rumahku! Itu..itu rumah tempat
tinggalku dulu bersama eomma dan Appa!" pekik Soyeon dengan suara
bergetar. Membuat Cheolyong membelakan matanya dan perlahan melepas tanganya
dari pundak Soyeon. Dan membiarkan yeoja itu pergi.
***
Dengan nafas terengah Cheolyong masuk ke
dalam sebuah gedung, dan menghiraukan sapaan security yang ia lewati di pintu
loby. Ia berlari menuju meja resepsionis.
"apa
direktur ada ditempatnya?" tanya Cheolyong dengan wajah yang serius.
Dengan
sedikit takut yeoja diresepsionis itu menjawab dengan terbata.
"n..n..nee,.taa~"
Belum
sempat yeoja itu menyelesaikan katanya, Cheolyong langsung berlalu dan bergegas
menuju lift. Ia hendak ke ruangan dimana direktur berada.
Dep-dep-dep-dep.
Suara
langkah kaki yang diciptakan Cheolyong cukup membuat sang direktur kaget, Mr.
Changsun Lee.
"apa
yang kau rencanakan, abeoji?" ucap Cheolyong dengan cukup hati hati, tapi
tak bisa menutupi bahwa rahangnya yang mengatup, menahan emosi.
"kebetulan
kau datang, ada sesuatu yang akan aku bicarakan padamu" ucap Changsun,
saat itu ia terlihat santai.
"jawab
aku!! Apa kau berencana untuk mengusik kematian seseorang?" pekik
Cheolyong.
"tidak
seharusnya kau membentak appamu sendiri Bang Cheolyong!" ucap pria paruh
baya itu, yang kini membuat Cheolyong terdiam. "duduklah dulu....".
Kali ini Cheolyong menuruti perintah abeojinya itu. Ia duduk tepat dihadapan
Changsun.
"aku
tau kau bersamanya bukan?" selidik Changsun "aku juga tau kau suka
pada gadis itu" lanjutnya, Sepertinya Cheolyong tau siapa yang dimaksud
Changsun kali ini.
"apa
yang akan kau lakukan padanya??"
Sebelum menjawab, Chansung menunjukan
senyum kharismatiknya."hari ini, timku tidak menghasilkan apa apa, makanya
aku bereskan rumah tua itu, walaupun aku tau rumah itu sangat Jihoon hyung
jaga, tapii rumah itu sangat mengancamku" jelas Changsun, kini Cheolyong
menatap appanya itu dengan hati hati dan waspada.
"apa
kau fikir aku akan mencelakakannya?"
"aku
harap tidak!" ucapnya dengan tatapan tajam yang ia tujukan pada Changsun.
"tenanglah,
aku tidak akan melukai gadis itu. Aku tau kau benar benar menyukainya"
Lagi lagi Chansung menampakan senyuman karismatiknya lalu menatap mata
Cheolyong lekat lekat " maka dari itu aku punya sedikit penawaran
untukmu" Cheolyong mengangkat alisnya bingung.
"kau
tau, cabang perusahan j.tune akan kuserahkan pada Jinon dan aku akan memimpin
j.tune pusat, dan aku tau kau juga ingin mendapatkan jabatan itu. "
Cheolyong memutar otaknya mengingat lagi impiannya untuk menjadi seperti
Chansung. Walapupun appanya ini picik tapi ia tetap menjadi pahlawan di dalam
hidup Cheolyong. Sempat ia kecewa karna anak perusahaan j.tune akan jatuh
ditangan Jinon, orang kepercayaan Changsun. Awalnya ia akan memberikannya pada
Cheolyong tapi ia masih harus menyelesaikan sekolahnya, makanya ia lebih
memilih Jinon.
"aku
akan memberikan perusahaan itu untukmu, asal kau bisa mendapatkan barang bukti
itu dari Soyeon" Changsun kini tersenyum puas.
"ANDWAE!"
"kau
bisa melakukannya dengan caramu, asal kau mendapatkanya.."
"aku
tidak bisa appa, itu tidak mungkin!"
"kalau
kau tidak mau, biar aku yang melakukannya dengan caraku"
************************************************************************
kalau banyak typo maafkanlah, karna part ini udah dibuat dari tahun kemarin dan belum pernah dibuka buka lagi ToT
semoga ff ini bisa berlanjut, amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar