Rabu, 13 Maret 2013

Take Me Away Part 3


Author:  Mr.awesome
Main cast: Yang SeungHo (MBLAQ), Park SoYeon (T-ARA), Bang CheolYong (MBLAQ), Park Kahii (AS)
Other cast:  Park SangHyun (MBLAQ), Lee Changsun (MBLAQ), Jung ByungHee (MBLAQ), Lee JooYeon (AS), Jeong Jihoon, Sandara Park (2NE1), Kim JungAh (AS) And Other Description: :D
Rating: PG
Length: -
Genre: Romance, Angst
Disclaimer: The Plot of this Fanfic is mine, the characters are all belong to themselves, but Yang Seungho is mine kkeke


Take Me Away Part 3
************************************************************************
Seungho pov
Setelah ia mengatakan bahwa ia menyukaiku, Soyeon langsung berlari ke kamarnya. Aku masih duduk terdiam di ruang tamu masih dengan posisi yang sama, hanya karena perkataan Soyeon tadi.
"AKU MEMANG MENYUKAIMU!" Ucapnya dengan penekanan yang cukup keras. Aku fikir apa yg Soyeon katakan itu  hanya sebuah candaan, karna aku juga hanya bercanda tentang apa yang aku tanyakan padanya.  Mana mungkin dia menyukaiku, menyukai pamanya sendiri itu sungguh mustahil.
Namun, caranya berbicara, tatapannya.... bukan seperti orang yang sedang bermain main. Itu yang membuatku bingung, tsk, apa aku salah berbicara kali ini.
Aku pun beranjak dari tempatku duduk menuju kamar Soyeon. Kurasa pintunya terkunci, aku pun mencoba mengetuk pintunya.
"Soyeonna!" seruku tapi tidak ada balasan apapun
"kau mau makan apa? Biar hyung buatkan" sedikit pun tidak ada suara yang keluar dari kamar Soyeon. Apa dia marah? Aish, Soyeon akhir akhir ini terlihat lebih sensitive. Sepertinya aku harus menjaga kata kata dan sikapku di depannya.
-krek-
perlahan pintu kamar Soyeon sedikit terbuka. Kulihat Soyeon nampak berada di balik pintu.

"aku mau ramyeon saja hyung" katanya dengan ekspresi yang sedikit takut.
"hahaha, ayo cepat keluar kamar, apa kau mau makan disana?" kataku tergelak. Soyeon pun membuka pintu kamarnya lebar lebar lalu mengikutiku berjalan ke dapur. Kulihat ia duduk di tempat yang biasa ia tempati di meja makan. Akupun mulai menyiapkan bahan dan peralatan masaknya.
"tidak ingin makan yang lain? Biasanya kau protes kalau aku buatkan kau ramyeon" kataku sambil mengaduk ramyeon yang sudah setengah jadi.
"tidak, ramyeon saja cukup" jawabnya singkat, Soyeon sama sekali tidak menatap ke arahku.
Setelah ramyeon ku jadi, aku pun membawanya dan menaruhnya diatas meja makan. Soyeon mulai mengangkat chopsticknya dan memakanya dengan lahap, aku hanya diam duduk didepannya juga sedikit tersenyum karna cara makanya itu, sepertinya ia belum makan apa apa hari ini.
" sepertinya kau masih marah pada hyung?" tanyaku, tiba tiba Soyeon berhenti dari kegiatanya lalu menatapku. Sesaat ia tetap diam, tapi ia pun melanjutkan makannya tanpa sedikitpun menjawab pertanyaanku.
"bukankah wajar kalau kau menyukaiku, aku kan pamanmu " kataku, ia tetap pada posisinya.
"aku juga menyukaimu...." kataku lalu terhenti karena Soyeon menegakkan kepalanya, lalu menatapku "ya karna kau keponakanku satu satunya.."
"sudahlah hyung, aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi, anggap saja aku tidak pernah bicara tentang hal itu" gerutu Soyeon
"keuraeee..." kataku lalu kuambil semangkuk ramyeon untukku sendiri. Selintas teringat sekelebat ingatanku tentang masa kecil Soyeon. Aku selalu bersamanya, menemaninya bermain di waktu luangku sepulang sekolah.
Soyeon merupakan sosok yang manja dan senang diperhatikan, apalagi ia merupakan anak satu satunya milik byunghee hyung dan joyeon nuna jadi pantaslah jika kedua orangtuanya itu akan memberikan apapun untuk Soyeon. Namun, byunghee hyung dan joyeon noona selalu nengajarkan nilai nilai positif dalam kehidupannya sehingga Soyeon tidak tumbuh menjadi anak yang sulit di atur. Dia sangat senang membantu  orang orang disekelilingnya dengan semampunya dan ia tau bagamana seharusnya ia menempatkan dirinya pada suatu kejadian. Soyeon sering menemaniku belajar, dia yang akan membawakan ku makanan dan minuman, dia tau kalau hyungnya ini sedang sibuk makanya ia sama sekali tidak mengajakku untuk menemaninya bermain.
Seungho pov end
*
"haah..kau ingat waktu Doojoon hyung menikah, apa yang kau katakan padaku?" ucap Seungho yang kembali mengingat kenangannya bersama Soyeon. Soyeon menatap Seungho penasaran., ia sama sekali tak ingat kejadian itu.
"'saat aku besar nanti aku mau menjadi pengantin wanita untuk hyung' hahaha, ternyata kau mengatakan yang sejujurnya" gelak Seungho, dibarengi dengan tatapan kesal Soyeon wajanya mulai berubah merah jambu.
"hyunnnggg!" Soyeon bersungut kesal. Tapi sepertinya Seungho menyukainya.
"apa kau masih ingin jadi pengantin wanitaku?" tanya Seungho sambil membulatkan matanya di depan wajah Soyeon.
"HYEEOOONNGGGG!" teriak Soyeon sambil melempar chopsticknya kedepan Seungho, pria itu tertawa senang. Seungho berhenti tertawa saat iphonenya berdering, ia pun segera mengambil iphonenya yang ada di meja makan. "yoboseyo?" tiba tiba Seungho menatap Soyeon "oo, Kahiishi..wae?" Seungho beranjak dari tempat duduknya.

*

"anyeong onnie, menyusahkanmu lagi hari ini " sapa Soyeon dengan nada datar  pada Dara yang berdiri di ambang pintu. Dara kini menatap Seungho yang masih berdiri di depan apartemen Dara.
"hehe, ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini..tolong jaga bocah itu noona"ucap Seungho sedikit malu karna akhir akhir ini ia lebih sering menitipkan Soyeon pada Dara.
"tenanglah, dia jinak ditanganku kok" ucap Dara lalu tersenyum menyeringai.
"baiklah, aku  percayakan pada nuna ya," ucapnya berterimakasih
"hyoong! Janji ya tidak pulang larut"  seru Soyeon yang tiba tiba muncul dibelakang Dara.
"tenang saja aku janji!" ucap sengho, Soyeon akhirnya tersenyum lalu masuk ke kamar Sanghyun.
"baiklah noona, aku pergi dulu..."
"heem, anyeong" Dara melambaikan tangan, Seungho pun bergegas pergi menemui kahii yang ternyata sudah menunggu di depan gedung apartemen.
"kajja~" kata Seungho langsung berjalan menuju parkiran. Kahii berjalan di sebelah Seungho sambil mengimbangi langkah Seungho yang cepat.
"sebenarnya...aku masih menunggu permintaan maaf seseorang karna telah meninggalkanku sendiri " cibir Kahii, Seungho tiba tiba berhenti.
"ahh, ya. Mianhae, tadi aku begitu marah sampai aku lupa pamitan padamu " sesalnya,  Kahii tersenyum.
"haha, tenang sajalah, aku mengerti keadaanmu"
"baguslah kalau begitu" kata Seungho datar lalu kembali berjalan.
"ada apa dengan pria ini? dingin sekali. Tsk" gumam kahii.  

#

"sebentar lagi kita sampai" ucap Seungho memecahkan keheningan yang tercipta di mobil itu. Sejak awal perjalanan sampai mereka sekarng sudah ada di perbatasan Hwasun, tidak ada satupun topik yang mereka bicarakan.
Kahii tersenyum saat mereka sudah sampai di daerah kampung halamannya. Hwasun merupakan salah satu kota di distrik jeollanam-do yang masih murni dengan adat istiadatnya, pemandangan yang indah dan rumah rumah hanok yang masih berdiri kokoh dizaman yang serba modern saat ini. Suasana yang sangat berbeda dengan Seoul.
Seungho memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah, mereka turun dari mobil dan masuk kerumah tersebut. Mereka disambut seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang berdiri di sebelahnya.
"hahaha..Kaahii-yaa! " kahii berlari lalu memeluk pria itu.
"hss, kau sudah menjadi wanita dewasa sekarang" kata pria itu lagi sambil membelai rambut kahii, lembut.
"ahjussie juga sudah menjadi kakek kakek sekarang" ucap kahii terkekeh. Kahii menatap gadis yang berdiri di belakanng Jinyoung Ahjussie.
"anyeong soheeyaa, sudah lama tidak bertemu" ucap kahii tersenyum ramah pada sohee, begitupun sohee.
"ahh, Seungho ya!!" seru Jinyoung saat melihat Seungho berdiri tak jauh darinya. Jinyoung langsung memeluk Seungho.
"apakabar ahjussie.." kata Seungho menundukan sedikit kepalanya.
"ahh, kau semakin tampan,dimana Soyeon?" tanya Jinyoung
"Soyeon tidak bisa ikut hari ini"
"tsk, pdahal aku sangat ingin bertemu dengan bocah itu, dia selalu memenuhi rumahku dengan suara tertawanya dan aegyeonya itu, aku sangat rindu padanya.." kenang Jinyoung "bagaimana kabarnya?"
"semakin hari kondisinya semakin baik, sekarang dia sudah jarang menangis dan lebih sering bergaul dengan temantemannya, itu sangat membantu" papar Seungho.
"hssk, awalnya aku sangat khawatir padanya semenjak hari itu aku selalu mendengar kabar buruk tentangnya, saat itu aku hanya bisa menangis..dia masih sangat kecil, tapi aku senang kalau memang kabarnya semakin baik.." kata Jinyoung sambil tertawa.
"5 tahun ini, Soyeon sudah menjalani terapi, kemungkinan dia akan sedikit lupa tentang ahjussie"
"tak apa, yang penting dia baik baik saja..aku sudah senang," Jinyoung tersenyum lembut, ia merasa sedikit lega dihatinya. Ia sudah menganggap Soyeon seperti cucunya sendiri, dan ia juga terlalu sayang pada Soyeon. "ayo masuk.." mereka pun masuk kesebuah ruangan. Seperti ruang tamu biasanya, hanya yang ini dihiasi dengan aksen aksen tradisional korea.
"untuku, ini merupakan tempat terbaik untuk menenangkan diri...sudah hampir 5 tahun disini, tapi kenyataannya aku belum merasa tenang sepenuhnya.." jelas Jinyoung dengan mata nanar, sambil menerawang seisi ruangan tersebut.
"kami tau, kau tau sesuatu tentang pembunuhan itu, makanya kami datang ke sini ahjussie.." jelas kahii langsung tothepoint ke inti masalah.
"hem, aku sudah tau dari awal kau menelponku kembali, setelah 4 tahun menghilang tidak pernah kembali kesini. Pasti dengan maksud tertentu.." Jinyoung terkekeh.
"kami mohon ahjussie membantu kami.." pinta Seungho, ia menunduk lagi.

***
seorang pria paruh baya duduk di balkon rumahnya di salah satu kursi kesayangannya, tempat ternyaman yang ia punya di rumahnya itu. Ia terus tersenyum sambil menghirup kesegeran uDara yang tercipta di pengawal musim semi tahun ini. Sesekali ia menyeruput secangkir teh hangat di depannya. Ia terperangah ketika seorang anak lelaki masuk ke halaman rumahnya, anak itu berjalan dengan riang tak lupa senyuman yang terus mengembang diwajahnya.
"chulyeongaa?" seru pria paruh baya itu. Anak lelaki yang bernama chulyeong itu berhenti dan berdiri di depan pria itu.
"nee abeoji?" tanya chulyong masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"ada apa denganmu hari ini?" tanya Lee Changsun, pria paruh baya itu yang merupakan abeoji dari chulyeong.
"aniio, hanya senang saja..kau sendiri sedang apa?" tanya chulyeong lalu duduk di kursi di sebelah abeojinya itu.
"hanya sedang merasakan udara segar disini, jarang sekali di siang hari udara masih terasa sejuk. Oh ya, kau tidak akan menceritakan pada aboji apa yg kau lakukan hari ini?"
"mmm, aku malu menceritakanya"
"hahaha, apa ini tentang yeoja yang kau suka? Apa kau sudah berkencan dengannya?" selidik changsun yang curiga dengan tingkah anaknya ini.
"yaaa...kurang lebih seperti itu.." kata chulyeong sambil menggaruk garuk kepalanya.
"jadi, siapa yeoja itu?" chansung penasaran, karna chulyong tidak pernah cerita mengenai yeoja yang ia sukai di sekolah.
"namanya..." belum chulyeong menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba seorang pria masuk ke halaman rumah chansung dengan langkah yang tergesa gesa, wajahnya juga terlihat cemas. Ia berdiri tepat di hadapan chansung, lalu ia membungkuk memberi hormat pada chansung terlebih dahulu.
"museun iriya, Jinon~shi?" tanya chansung yang ikut penasaran dengan ekspreri Jinon, ajudan terpercayanya.
"sepertinya kita harus bicara empat mata, hyung" ucap jinon, secara tidak langsung ia meminta chulyong untuk membiarkan ia berbicara pada chansung.
"keuraee...aku ke kamar dulu" seru cheolyeon yang sudah mengerti kondisi seperti ini. Chulyong pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Chansung dan Jinon di balkon.

"baiklah, ada apa?" ucap Chansung membuka topik pembicaraan.
"seseorang melaporkan mengenai kabar terbaru dari Kahii, anak Jihoon hyung" seketika chansung menatap Jinon serius. "Ia bekerja sama dengan Seungho, kau pasti tidak lupa dengan Seungho kan hyung?"
"hmm" respon chansung seraya menganggukan kepalanya.
"Seungho merupakan salah satu pengacara muda yang sudah diperhitungkan hasil kerjanya, dan dia sekarang bekerja untuk kahii.." jelas Jinon. Kini chansung menatap pada satu titik dengan wajah yang serius tapi tetap terlihat tenang.
"kudengar mereka hendak membuka kembali perkara itu hyung..." lanjut jinon, dan kini ia telah menyelesaikan laporannya.. Kini ia menunggu tanggapan dari Changhyun yang masih terus berfhkir.
"panggil perwakilan distrik Hwasun, temui aku jam 8 malam ini" ucap Changsun singkat.
"arraseo hyung" ucap jinon tegas. "mmh, hyung boleh aku pinjam toiletnya.? " kata jinon tiba tiba  meringis, chansung hanya tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
"ahh, gumaweo hyung!" seru jinon langsung menyambar berlari menuju pintu masuk. Ia seketika berhenti saat memilihat seseorang berdiri di dekat pintu.
"cheolyongaaaa, apa yang kau lakukan?" tanya jinon bingung, wajah chulyong gelisah dan  berkeringat. "apa kau sakit?"
"a..a..anii" ucap chulyong gelagapan dan langsung berlari menuju kamarmya. Jinon menaikan satu alisnya, bingung.
***
"aku tidak pernah membayangkan, persahabatan mereka bisa berubah menjadi seperti ini.." papar Jinyoung, memulai ceritanya. Seketika ruangan itu menjadi hening.
"dulu mereka begitu kompak, bahkan mereka menyebut persahabatan mereka seperti 3 beruang" Jinyoung tersenyum kecut.
"jihoon, yang paling tua diantara mereka, appa beruang, yang selalu menjadi pemimpin yang baik, pembuat keputusan, byunghee dia pintar dalam memasak makanan maka dia eommanya, dan pria itu....pria yang penuh aegyeo dulunya, sangat penggertak, manja, persis anak beruang"
"sejak kecil mereka tumbuh bersama, hingga mereka dewasa pun, mereka terus bersama.. Byunghee yang terbilang cerdas lulus cumlaud dalam bidang hukum yang ia jalani, hingga menjadi pengacara yang menjadi banyak pilihan orang. JiHoon melanjutkan perusahaann appanya dibantu oleh pria itu Changsun, mereka bertiga sukses" Kahii dan Seungho saling bertatapan ketika Jinyoung mengucapkan nama 'Changsun'.
"tapi persahabatan itu tidak terlalu berjalan mulus setelah masing masih dari mereka telah mendapat gelar, dan ketika kisah cinta lama mulai teringat kembali, menurutku itu penyebabnya" seketika Jinyoung menatap Kahii.
"kisah cinta?" tanya wanita itu bingung.
"eomma mu, itulah masalahnya..." lanjut Jinyoung, kahii menatap tajam pria paruh baya itu. Apa yang dimaksudkan Jinyoung? Kahii benar benar tidak menerti.
"Park Yuna, eommamu, merupakan cinta pertama Changsun, saat SMA mereka pernah menjalin hubungan tersembunyi namun putus saat Yuna berniat untuk pindah ke Seoul, dan ketika ia bisa bertemu Yuna lagi, saat Yuna sudah hendak bertunangan dengan Jihoon. Sejak saat itu hubungan Chansung dan Jihoon terlihat kurang baik"
"dan setelah kau lahir, ntah mengapa hubungan keduanya mulai membaik, bahkan Jihoon hendak memberikan salah satu cabang perusahaanya pada Chansung, salah satu impian Chansung yang benar benar ia ingini. Namun. Suatu hari Jihoon cerita padaku, bahwa Yuna mengandung lagi lalu matanya berkaca kaca dan bilang 'tapi itu bayi Changsun' "
seketika Kahii terenyak, mendengar penjelasan Jinyoung tadi. Antara percaya atau tidak,  ia benar benar merasa hatinya sakit. "apa eomma benar benar melakukan itu pada appa?" batinnya lirih.
"appamu benar benar marah dan  meminta Yuna untuk menggugurkannya ke Jepang, dan membatalkan pemindahan kepemilikan perusahaanya kepada chansung dan memberikannya pada byunghee"
"tapi byunghee hyung tidak menerimanya.." potong Seungho.
"ya, byunghee terlalu mencintai pekerjaanya sebagai pengacara, dan ia terlalu sayang pada Changsung, jadi ia tidak menerimanya"
"kahii shii, apa kau ingat apa yang terjadi di Jepang?" tanya Jinyoung serius.
Kahii terdiam tidak menanggapi pertanyaan Jinyoung, matanya berkaca kaca.
"bukankah kau ikut tinggal setahun dijepang?" tanya Jinyoung lagi.
"ahjussi..saat itu aku masih 3 tahun, bagaimana aku bisa ingat, yang aku tau hanya bermain, sekarang aku baru sadar kenapa perut eomma terus membesar, dan tiba tiba perut besar itu hilang.." tiba tiba matanya membulat "omo, kau bilang eomma menggugurkannya? Tapi kenapa selama dijepang ia membiarkan perutnya semakin membesar?" Jinyoung tersenyum.
"setelah 11 tahun eomma mu meninggalkan jepang rahasia itu mulai diketahui Jihoon tanpa sepengetahuan Yuna, saat itu dia hanya memberitahuku,ia benar benar kecewa ternyata anak Changsun dibiarkan hidup, saat itu aku hanya tau kalau Jihoon akan memecat Changsun dan hari itu Jihoon ditemukan tewas di ruang kerjanya"
"jadi menurutmu Changsun yang membunuh appa ku??"
"aku tidak tau, tidak ada saksi mata karena saat itu sudah jam pulang kantor, tidak ada tanda tanda aneh dari cctv di daerah ruang kerja Jihoon, kalian juga tau itu.."
"sehari setelah itu byunghee datang kepadaku, wajahnya kacau sangat terlihat sedih dan yang membuat aku kaget dia bilang kalau dia tau siapa pembunuhnya,"
"tapii saat ia ditanya oleh pihak polisi, ia bilang tidak tau apa apa, dan hari itu ahjussie ke kantor appa hanya karna ada sedikit urusan dengan appa"jelas Kahii merasa kebingungan.
"dia bohong, dan menutupi semuanya"
"yang aku tau sebelum hari itu dia sedang sibuk mengurusi pembuatan cctv untuk ruangan Jihoon hyung, kalau tidak salah hal ini mengenai pengamanan brangkas di ruangan pribadi Jihoon hyung" kini Seungho yang memberikan pernyataan.
"ya, hari itu ia datang untuk memasang cctv itu, hanya mereka berdua yang tau akan hal ini. "
"apa byunghee ahjussie menyimpan semua rekaman itu??"
"sepertinya iya, karna ia bilang kalau ia akan memberitau yang sebenarnya nanti, setelah ia memastikan bukti yang ia temukan..namun sebelum ia memberikan rekaman itu pada kepolisian, ia sudah ditemukan tewas bersama jooyeon" tuntasnya, lalu menatap Seungho yang sedikit tertunduk.
"dia tidak pernah cerita tentang hal itu, " jelas Seungho.
"setelah itu Changsun Ahjussie tetap memegang perusahaan cabang gyeonggi, apa itu tidak mencurigakan?" terka Kahii.
"jangan dulu mengambil kesimpulan. Walaupun memang diantara mereka bertiga aku tidak terlalu dekat dengan changsun..tapi aku  tidak yakin kalau dia yang melakukannya" kini Jinyoung menghela nafas panjang.
"semua orang tidak ada yang tau tentang hal anak itu, termasuk aku hss" keluh Kahii menyinggung masalah ‘adik tiri’nya yang ternayata dibiarkan hidup.
"appamu sengaja menyembunyikannya, tidak mungkin ia membongkar aib istrinya sendiri...oh ia bagaimana kabar ibumu?"
"dia baik..tapi sekarang sekarang aku sudah jarang untuk menjenguknya.." ucap Kahii, setelah itu keadaan di ruangan itu terasa hening. Tiba tiba Seungho berdiri beranjak dari tempatnya.
"eodiga??”
"aku akan ke rumah hyung mencari bukti" jawabnya, kebetulan rumah Byunghee tidak terlalu jauh dari ruma Jinyoung, hanya berbatas beberapa blok, bisa dibilang mereka masih ada dalam satu desa.
"tapi ini sudah malam, apa yang bisa kau temukan malam malam begini?" ucap Jinyoung.
"malam? Apa sekarang sudah malam?" tanya Seungho kaget, ia lupa akan janjinya pada Soyeon.
"haha, kau terlalu serius mendengar ceritaku ya?  Bermalamlah disini besok baru kau pergi kerumah byunghee" jelas Jinyoung lalu masuk kekamarnya.
"Baiklah.." ucap Seungho. Ia pun meraih ponselnya dan memencet beberapa tombol di hapenya itu.
"ohh, Dara noona..ehm, hari ini aku tidak akan pulang, tolong beri penjelasan pada Soyeon, aku masih ada di Hwasun,"..."tenanglah aku hanya mengunjungi sauDara disini........anii, jangan berikan telponnya pada Soyeon, ia pasti akan merengek, baiklahh..aku pulang besok, gumaweo Noona!"
-bip-
Seungho mengakhiri pembicaraannya.

***
[ERIC BENET - STILL WITH YOU]

Bel apartemen Dara berbunyi dengan suara nyaring. Mengagetkan Dara dan Sanghyun yang sedang asik menonton. Dara mengisyaratkan Sanghyun untuk bergegas melihat siapa yang datang. Dengan malas Sanghyun berjalan menuju layar monitor di dekat pintu. Ia memijit salah satu tombol dilayar tersebut, munculah gambar Seungho dilayar monitor itu.
"ahh, hyung" ucap Sanghyun sambil menekan tombol yang lainnya, lalu terdengar suara pintu terbuka.
"Anyeong, belum tidur Sanghyunii?" sapa Seungho.
"sekarang masih pukul 8 malam hyung, pria sejati tidak akan tidur pada jam segini," ujar Sanghyun polos, Seungho tergelak. Mereka berduapun masuk ke ruang tamu, Seungho langsung duduk di salah satu sofa disana.
"bawa apa?" tanya Dara saat melihat Seungho membawa satu kantong plastik besar.
"taadaa..semangka!" celetuk Seungho, Sanghyun dan Dara sama sama menunjukan tatapan kau-pasti-bercanda Pada Seungho.
"kau sudah memberiku 3 semangka minggu ini" ucap Dara, kesal.
"berarti akan ada 4 semangka kali ini" kata Seungho."anak itu tidur?" tanya Seungho seraya menyebarkan pandangannya kepenjuru apartemen.
"dia sudah tidur dari pukul 6 tadi, sepertinya ia kelahan, tau kau tidak akan pulang moodnya langsung hilang, lalu  Sanghyun membawanya ke taman sambil bermain  sepeda"jelas Dara. Seungho langsung masuk ke sebuah kamar dimana Soyeon tidur. Kamar dimana Soyeon selalu menggunakanya jika ia harus menginap disana.
Seungho tersenyum menatap Soyeon yang sangat tenang dalam tidurnya. Karena ia tidak berani untuk mengganggu ketenangan itu,"ahhh mianhae Soyeona, aku benar terlambat" iapun mengangkat Soyeon dan menggendongnya keluar kamar.
"aku pulang nuna..maaf sudah merepotkanmu."ucap Seungho dengan Soyeon digendonganya.
"tidak tidur disini saja?" tawar Dara
"tidak, Soyeon besok harus masuk sekolah" ucap Seungho seraya berjalan menuju pintu apartemen.
"keudae,hati hati"
"nee"

Seungho melangkah dengan hati hati agar Soyeon tidak terbangun. Jarak antar apartemennya tidak terlalu jauh dari apartemen milik Dara, hanya melewati beberapa kamar saja. Tiba tiba Soyeon mengerang, ia mengerejapkan matanya lalu mengangkat wajahnya. Dilihatnya wajah Seungho yang sedang menggendongnya itu.
"ahh,hyung" gumam Soyeon dengan suara sedikit parau khas orang yang baru bangun tidur.
"aa~ sudah bangun?"tanya Seungho, tapi Soyeon tidak menjawab apa apa.
"kau terlambat hyung" ucap Soyeon pelan, Seungho menunduk lalu menatap wajah gadis itu bingung.
"..................?"
"hyung terlambat!" ucap Soyeon dengan nada memaksa, lalu menepuk dada Seungho sedikit keras. Sontak Seungho menunduk lagi dan menatap Soyeon. Gadis itu malah menutup matanya dan terus merapatkan tubuhnya ke dada Seungho. Seungho hanya bisa tersenyum geli. Apa yang Soyeon lakukan tadi siang, sampai ia kelelahan dan mengigau seperti ini, fikir Seungho.
Setelah sampai di apartemennya, Seungho langsung membawa Soyeon ke kemar gadis itu dan membaringkannya diranjang. Tak lupa ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut, Soyeon tampak nyaman tidur dikamarnya sendiri.
"Hyeooongggg" panggil Soyeon, Seungho yang hendak meninggalkan ruangan itu langsung berbalik dan berdiri di samping ranjang Soyeon.
"mmm?"
"apa ramennya sudah matang??" ucap Soyeon masih dengan suara parau. Seungho mengerutkan dahinya, bingung.
"ini sudah malam, hyung tidak memasak ramen" jelas Seungho pada Soyeon yang masih setengah sadar itu.
"eng??...keuraee, aku akan bangun 5 menit lagi ya.. Aku..malas sekolah hari ini" lantur Soyeon.
"ya! Apa kau mengigau? Tsk.. Apa yang Sanghyun lakukan pada mu hingga kau jadi seperti ini?" ucap Seungho kesal. Soyeon diam kembali, Seungho pun memutuskan untuk meninggalkan kamar Soyeon.
"hyeoong?" panggil seyeon lagi, Seungho yang sudah sampai di ambang pintu pun berbalik dengan kesal.
"hss, mwoo?"
"hyung sudah pulang?" tanya Soyeon, matanya terbuka lebar.
"apa kau sudah sadar?" tanya Seungho memastikan kalau Soyeon tidak mengigau lagi.
"nee?!" Soyeon mengerinyitkan matanya tidak mengeri. "mmm, hyung...aku tadi bermimpi.." ucap Soyeon dengan nada lirih.
"apakau bermimpi menyuruhku masak ramen?" cibirnya sambil berjalan ke ranjang Soyeon lagi.
"annii...aku memimpikan appa juga eomma.." ucap gadis itu dengan mata berbinar. Seketika Seungho terdiam lalu ia berlutut di sebelah ranjang Soyeon. Mengusahakan wajahnya sejajar dengan wajah Soyeon, agar Soyeon lebih tenang dan nyaman. Inilah yang dipelajari Seungho dari dokter jung -psikiater Soyeon, disaat saat seperti ini.
"benarkah?" tanya Seungho. Soyeon mengangguk sambil tersenyum.
"mmh, aku sedang duduk di ayunan. Ayunan yang appa buat khusus untukku waktu umurku 5 tahun, kau ingat?" Seungho mengangguk "lalu, appa eomma datang, appa berdiri di depan ku, sedangkan eomma berdiri  agak jauh dariku. Apa berkata padaku 'anyeong uriprincess, apa harimu baik hari ini?' lalu aku jawab 'nee.. Sangat baik' lalu ia bertanya 'gwaenchana?' lalu aku jawab 'keuroom, na gwaenchana, appa gwaenchana?' lalu appa malah menggelengkan kepalanya..." Soyeon berhenti sejenak untuk menarik nafas " ia bilang kalau ia sangat menghawatirkanku aku pun bilang pada appa bahwa aku benar benar tidak apa apa, hyung selalu menjagaku jadi jangan khawatir, lalu dia bilang bahwa aku harus terus mendengarkan hyung, terakhir ia bilang 'Soyeoniiim......! appa......eomma.... neomu bogoshippo' lalu aku jawab..." satu tetes air matanya jatuh diatas bantalnya
"nadoo..appa, nado neomu neomu neomu neomu neomu neomu neomu neomu bogoshipo..hss"lanjutnya lalu mengatur nafasnya dan menahanan tangisnya keluar.
"lalu apa yang terjadi?"
"hsss...appa dan eomma tersenyum lalu masuk ke rumah dekat ayunan, rumah kita waktu di Hwasun.. Lalu aku tidak melihat mereka lagi hyung.." Soyeon terus menahan tangisannya, tapi air matanya terus turun butir demi butir. Hingga Soyeon mulai menangis kecil. Tapi Seungho mulai membelai rambut Soyeon dan menatap mata Soyeon lekat lekat.
"appamu pasti senang karna tau sekarang kau tumbuh menjadi gadis yang ceria, maka tumbuhlah terus seperti itu"
"tapi, hyung.. aku takut kau juga meninggalkanku, seperti appa dan omma.." ucap Soyeon lirih.
"tenang, hyung disini. Tidak akan sekalipun hyun meninggalkanmu.."ucap Seungho sambil menatap Soyeon lekat lekat, Soyeon ikut tersenyum. Sesaat Soyeon menutup matanya dengan memaksa, mencoba untuk menahan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.
"hey..apa kau menangis?" tanya Seungho, Soyeon hanya menggeleng masih menutup matanya.
"baiklah, aku biarkan kau menangis kali ini" Seungho naik ke ranjang dan berbaring di sebelah Soyeon. Seketika Soyeon langsung membenamkan wajahnya di dada Seungho. Seungho pun memeluknya sedemikian rupa agar Soyeon merasa lebih tenang. Hal ini sering terjadi di saat saat tertentu, dimana Soyeon kembali teringat tentang kejadian suram yang menimpa keluarganya itu. Biasanya Seungho memanggil Jung Ah, psikiater yang menangani terapi Soyeon yang merupakan teman lama Seungho. Tapi semakin lama, Seungho mulai mengerti bagaimana menangani trauma Soyeon sehingga ia akan memanggil Jung Ah disaat tertentu saja atau sekedar kontrol. Seungho tetap membiarkan Soyeon berada didekatnya sampai gadis itu terlelap.
***
"matamu bengkak," ucap Jiyeon sesampainya Soyeon ke kelas. Ia menggembungkan pipinya, dan mulai mencubit pipi Soyeon. Soyeon hanya menatap sahabatnya itu dengan sayu. Hari ini semester baru dimulai, hari ini juga merupakan hari ulang tahun Jiyeon. Namun, Soyeon malah datang dengan wajah yang sembab.
"ayolah, jangan begini di hari ulangtahunku...ayo terrenyum" Jiyeon meletakan telunjuknya di sudut bibir Soyeon lalu menariknya keatas, membuat bibir Soyeon berbentuk senyuman.
"mianhae, dihari ulangtahunmu aku malah begini," Soyeon tersenyum kecut.
"gwaenchana, asal kau berjanji tidak seperti ini lagi,araseo!" kata Jiyeon sambil tersenyum simpul. Soyeon mengangguk lalu memeluk sahabatnya itu.
"saengil chukahae Jiyeonna!" ucap Soyeon lalu mempererat pelukannya.
"gumaweoo"seketika Jiyeon lalu mendorong Soyeon "mana kadoku?" katanya lalu membuka telapak tangannya.
"mmm, sebenarnya aku sudah mempersiapkannya, tapi aku lupa membawanya" ucap Soyeon perlahan lalu sedikit terkekeh.
"nappeun neo! Masa bisa lupa? Hss"
"mian, aku benar benar meninggalkannya di meja belajar tadi pagi "
"sebagai gantinya kau harus menemenaku hari ini keudae, kau harus mau!"
"keudae, karna ini kesalahanku jadi aku harus menurutimu hari ini.."Soyeon pasrah.
"choa.,goodboy" kata Jiyeon lalu menepuk kepala Soyeon.
"YAK!"
***
"eodigaa??" tanya Soyeon bingung saat Jiyeon menariknya sampai ke jalan setapak di depan deretan pertokoan.
"ttarawa..." kata Jiyeon masih terus berjalan sampai ia berhenti di depan sebuah toko. Ia menatap seorang namja yang berdiri tak jauh dari mereka. Tanpa sepengetahuan Soyeon, Jiyeon mengedipkan matanya pada namja itu, namja tersebut tertawa lalu mengacungkan jempolnya.
"nuguya?" tanya Soyeon saat ia menyadari sahabatnya itu terus menatap seorang namja tadi.
"OPPA!!" seru Jiyeon lalu berlari ke arah namja itu. Soyeon bengong lalu berjalan mengikuti Jiyeon.
"Dongwoon Sunbae?" kaget Soyeon saat ia melihat bahwa namja itu dalah Dongwoon.
"anyeong Soyeona!" sapa Dongwoon, terlihat Jiyeon langsung menghampiri Dongwoon lalu memeluk tangan Dongwoon dengan manja.
"oppa, kenapa bisa ada disini?" tanya Jiyeon.
"sebenarnya aku hendak membelikanmu sesuatu tapi aku bingung, bagaimana kalau kau yang memilih sendiri..."
"keuraae! " Jiyeon tersenyum manis "Soyeonna, karna ada Dongwoon oppa, kau boleh pulang sekarang, anyeongg" kata Jiyeon lalu menggandeng tangan Dongwoon. Soyeon melongo, menatap punggung sahabatnya itu yang sudah pergi menjauh.
"YAKK!!" teriak seseorang di sebelahnya, sontak ia langsung menoleh kearah suara itu tercipta.
" Ya! SON DONGWOON! " teriak namja itu lagi."aissh.." desahnya saat Dongwoon tak kunjung merespon panggilannya.
"cheolyong sunbae?" terka Soyeon. Chulyong lalu menoleh dan kaget saat melihat Soyeon.
"Jung Soyeon..kenapa kau disini ?" kaget Cheolyong, lalu Soyeon menunjuk Jiyeon smbil mengerucutkan bibirnya.
"Jiyeon memintaku untuk menemaninya, lalu..yah beginilah jadinya" jelas Soyeon terlihat kecewa.  Sesaat Cheolyong mulai menyadari kenapa tiba tiba Dongwoon memintanya untuk menemani namja itu kesini, dan sekarang dia malah meninggalkannya berdua dengan Soyeon.
"aissh.." desah Cheolyong.
"wae?"
"aniio..jadi sekarang kau mau kemana?"
Soyeon memutar bola matanya, " sepertinya aku akan pulang saja, sunbae sendiri bagaimana?"
"baiklah, aku antar kau pulang.." ucap cheolyong lalu menatap Soyeon meminta persetujuan.
"aaa, tidak usah, aku pulang sendiri saja kok"
" gwaenchana, aku sedang ingin jalan-jalan..kajja" katanya, lalu menarik lengan Soyeon.

***
"aigoo, mereka benar benar cocok" ucap Jiyeon berdecak kagum. Mereka tidak benar benar pergi membeli hadiah, bahkan mereka benar benar tidak menjalin hubungan khusus, mereka melakukan ini agar mereka punya alasan untuk membuat kedua sahabatnya itu bisa mengenal satu sama lain. Setelah meninggalkan Cheolyong dan Soyeon, mereka berdua berdiam di salah satu cafe sambil memantau, apakah rencana mereka berjalan dengan baik atau tidak.
"heem, kajja..kita juga lanjutkan kencan kita" kata Dongwoon mantap lalu meraih tangan Jiyeon .
-plakk- seketika pria itu merasakan hentakan yang cukup membuat lengannya memerah.
"yaaak! Jiyeonna appooo!" Dongwoon merengek manja.
"aish! Ingatlah, kita cuman akting! CUMA AKTING!" ucap gadis itu memperjelas kata katanya.
"araseo!!"
***
Chenlyong dan Soyeon, mereka berdua berjalan diantara jalan dan pertokoan, menyusuri jalan setapak yang cukup ramai dilewati orang. Suara riuh pikuk orang ramai itu sukses membuat mereka bungkam seribu bahasa.  Hanya menikmati perjalanan mereka dan kadang tersenyum satu sama lain.  Langkah mereka terhenti saat melewati konter koran, dimana orang orang berebut koran  yang menyajikan berita terbaru hari ini.
"aau.." rintih Soyeon saat ia tidak sengaja terdorong oleh seorang pria yang baru saja membeli koran, seketika Cheolyong meraih lengan Soyeon dan menahannya agar tidak jatuh.
"hati hati.." cheolyong mengingatkan. "gwaenchana?"
"hmm, gwaenchana" mereka saling bertemu pandang dan tersenyum.
"apa Dongwoon sunbae menceritakan tentang hubunganya dengan Jiyeon?" tanya Soyeon memecahkan keheningan.
"itu yang aku bingungkan, dia sama sekali tidak bicara"
"Jiyeon juga begitu, aku jadi panasaran..ckck"
"oh ya, soal waktu itu, apa hyungmu marah?"
"ahh,tidak.. Hanya ada sedikit kesalahpahaman"
"oh syukurlah, aku fikir hyung mu marah karena melihatmu denganku.." ucap cheolyong yang kini membuat Soyeon menatap namja itu. Ia sedikit suka dengan kata 'hyung marah karna aku bersama chulyong?'
"mungkinn.." ucapnya pelan lalu mulai tersenyum.
"benarkah?"
"eeh? Anio.. Bukan itu masalahnya tenanglah"
"ooh,baguslah..."

Mereka terus berbincang hingga memasuki jalanan sepi, cukup hening tapi mereka tak menyadari itu karna perbincangan mereka.
-WUSSSH-
Sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi hanya berjarak beberapa senti dari tubuh Soyeon. Beruntung, Cheolyong langsung menarik tubuh gadis itu ke sisi jalan. Kalau tidak mungkin kaca spion mobil itu akan mengenai tubuh mungil Soyeon.
Soyeon shock, wajahnya pucat pasi dan Nafasnya terengah. "gwaenchana?" ucap Cheolyong, ini sudah kesekian kalinya chulyong menghawatirkannya. Namun, Soyeon tetap diam.
"barusan itu...dekat sekali" ucap Soyeon sedikit terbata.
"untung saja..."
"ya, untung saja.." syukur Soyeon, tanganya meraba bagian lehernya mencari sebuah liontin yang tergantung di kalungnya. Tapi ia tidak merasakan keberadaan kalungnya itu.  Langkahnya terhenti.
"wae?" tanya Chulyong saat menyadari Soyeon tidak berjalan bersamanya lagi. Seketika ia menghampir Soyeon  dengan wajah panik tersirat di wajah Soyeon.
"kalungku hilang!"
"mwo? Kalung?" Soyeon mengangguk,
"kalungku, sunbae!"  mata Soyeon berair.
"baiklah, kita cari" kata Chulyong lalu menyebarkan pandanganya keseluruh jalan.
"bagaimana bentuknya?"
"rantainya perak lalu ada liontin kepingan berbentuk bulat" jelas Soyeon pada Chulyong yang sedang berjongkok mencari kalung itu.
"Seperti ini?"
Chulyong mengangkat sebuah kalung dengan bentuk yang sama dengan penjelasan Soyeon tadi. Cepat-cepat Soyeon langsung mengambil aenda itu di tangan Chulyong. Setelah mengamati beberapa saat Soyeon pun mengangguk mantap sambil tersenyum.
"gumawooo sunbae!!" sahutSoyeon, eyesmilenya tampak jelas terlihat.
Tanpa Chulyong sadari ia sudah terpesona dengan senyuman itu, senyuman yang paling iya sukai.
"kalung ini pemberian terakhir dari appaku, aku sangat sangat sangat berterimakasih padamu.." ucap gadis itu masih dengan senyuman yang merekah diwajahnya.
"appa?" tanya chulyong tiba tiba menjadi kaku "memang kenapa appamu?"
"3 hari sesudah ia memberikan kalung ini, dia meninggal.." ucap Soyeon tersenyum kecut.
Chulyong menatap gadis itu "jeongmal?..ahh mi..mian"
“gwaenchana..” ia tersenyum "dia bilang aku harus menjaga kalung ini, jangan sampai hilang atau memberikannya pada siapapun, sekalipun itu Seungho hyung" lanjutnya "karna kau sudah menolongku, aku akan mentraktirmu makan..otte?"
***
"apa sih yang orang bicarakan?" gumam Soyeon ditengah acara makannya dengan cheolyong. Cheolyong ikut heran sambil memperhatikan sekitarnya. Sedangkan Soyeon serius memandangi sekumpulan ibu ibu yang sedang bergosip.

"kok bisa seperti itu ya?"
"ya, benar. Rumah mereka berdua yang ada di Hwasun benar benar hangus terbakar, ini sangat misterious"
"lebih anehnya kenapa hanya dua rumah itu yang terbakar..."

"Soyeon na?" sahut Cheolyong pada Soyeon yang sangat serius dengan pembicaraan ahjuma ahjuma itu, Soyeon terenyak beberapa saat.
"an..anio, aku sedikit memiliki perasaan aneh.." ucap Soyeon sambil memperhatikan sekitarnya dengan perasaan cemas.
"wae? Apa tentang berita itu?"
"entahlah, mereka membicarakan Hwasun, dulu aku tinggal di Hwasun. Itu tempat tinggal orantuaku," Jelas Soyeon.
"wow..sama, orangtuaku juga dari Hwasun," kata Cheolyong tersenyum simpul, diikuti senyuman dari Soyeon.
"OMO, Lihat! Ada beritanya di TV!" Seru seorang pelanggan yang kaget sambil menunjuk sebuah TV yang sengaja di sediakan pemilik kedai ini untuk pelanggan. Seketika ruangan hening dan semua pandangan tertuju pada TV yang hanya berukuran 19" itu. Semua orang diam termasuk Soyeon dan Cheolyon.
" ~~~~ sampai berita ini disampaikan, pihak kepolisian masih terus berusaha untuk mencari siapa pelaku dari pembakaran rumah seorang pengusaha terkenal ini beserta rumah rekannya yang dulu bekerja sebagai pengacara sekaligus penasehat presiden itu ~~~~ "  TV itu menayangkan rekaman rumah yang terbakar itu. Saat ditayangkan sebuah rumah yang sedang dilahat sijago merah itu, Soyeon tiba tiba tersadar. Apalagi saat melihat sebuah ayunan yang terbakar di depan rumah itu.

Mata Soyeon membulat, mulutnya mengatup. Tiba tiba ia sulit bernafas. "hyunggg" gumam Soyeon langsung lari berhamburan ke luar kedai itu. Bingung, cheolyong ikut meninggalkan kedai itu dan mengejar Soyeon yang tengah berlari.

"SOYEONN!" ucap Cheolyong saat ia berhasil menahan pundak yeoja itu. "wae??" lanjutnya dengan nafas yang terengah.
"kau tau! Salah satu rumah yang terbakar tadi...Itu rumahku! Itu..itu rumah tempat tinggalku dulu bersama eomma dan Appa!" pekik Soyeon dengan suara bergetar. Membuat Cheolyong membelakan matanya dan perlahan melepas tanganya dari pundak Soyeon. Dan membiarkan yeoja itu pergi.
***
Dengan nafas terengah Cheolyong masuk ke dalam sebuah gedung, dan menghiraukan sapaan security yang ia lewati di pintu loby. Ia berlari menuju meja resepsionis.
"apa direktur ada ditempatnya?" tanya Cheolyong dengan wajah yang serius.
Dengan sedikit takut yeoja diresepsionis itu menjawab dengan terbata. "n..n..nee,.taa~"
Belum sempat yeoja itu menyelesaikan katanya, Cheolyong langsung berlalu dan bergegas menuju lift. Ia hendak ke ruangan dimana direktur berada.

Dep-dep-dep-dep.
Suara langkah kaki yang diciptakan Cheolyong cukup membuat sang direktur kaget, Mr. Changsun Lee.
"apa yang kau rencanakan, abeoji?" ucap Cheolyong dengan cukup hati hati, tapi tak bisa menutupi bahwa rahangnya yang mengatup, menahan emosi.
"kebetulan kau datang, ada sesuatu yang akan aku bicarakan padamu" ucap Changsun, saat itu ia terlihat santai.
"jawab aku!! Apa kau berencana untuk mengusik kematian seseorang?" pekik Cheolyong.
"tidak seharusnya kau membentak appamu sendiri Bang Cheolyong!" ucap pria paruh baya itu, yang kini membuat Cheolyong terdiam. "duduklah dulu....". Kali ini Cheolyong menuruti perintah abeojinya itu. Ia duduk tepat dihadapan Changsun.
"aku tau kau bersamanya bukan?" selidik Changsun "aku juga tau kau suka pada gadis itu" lanjutnya, Sepertinya Cheolyong tau siapa yang dimaksud Changsun kali ini.
"apa yang akan kau lakukan padanya??"
Sebelum menjawab, Chansung menunjukan senyum kharismatiknya."hari ini, timku tidak menghasilkan apa apa, makanya aku bereskan rumah tua itu, walaupun aku tau rumah itu sangat Jihoon hyung jaga, tapii rumah itu sangat mengancamku" jelas Changsun, kini Cheolyong menatap appanya itu dengan hati hati dan waspada.
"apa kau fikir aku akan mencelakakannya?"
"aku harap tidak!" ucapnya dengan tatapan tajam yang ia tujukan pada Changsun.
"tenanglah, aku tidak akan melukai gadis itu. Aku tau kau benar benar menyukainya" Lagi lagi Chansung menampakan senyuman karismatiknya lalu menatap mata Cheolyong lekat lekat " maka dari itu aku punya sedikit penawaran untukmu" Cheolyong mengangkat alisnya bingung.
"kau tau, cabang perusahan j.tune akan kuserahkan pada Jinon dan aku akan memimpin j.tune pusat, dan aku tau kau juga ingin mendapatkan jabatan itu. " Cheolyong memutar otaknya mengingat lagi impiannya untuk menjadi seperti Chansung. Walapupun appanya ini picik tapi ia tetap menjadi pahlawan di dalam hidup Cheolyong. Sempat ia kecewa karna anak perusahaan j.tune akan jatuh ditangan Jinon, orang kepercayaan Changsun. Awalnya ia akan memberikannya pada Cheolyong tapi ia masih harus menyelesaikan sekolahnya, makanya ia lebih memilih Jinon.
"aku akan memberikan perusahaan itu untukmu, asal kau bisa mendapatkan barang bukti itu dari Soyeon" Changsun kini tersenyum puas.
"ANDWAE!"
"kau bisa melakukannya dengan caramu, asal kau mendapatkanya.."
"aku tidak bisa appa, itu tidak mungkin!"
"kalau kau tidak mau, biar aku yang melakukannya dengan caraku"
************************************************************************


kalau banyak typo maafkanlah, karna part ini udah dibuat dari tahun kemarin dan belum pernah dibuka buka lagi ToT 
semoga ff ini bisa berlanjut, amin 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar