Rabu, 13 Maret 2013

Pluto Juga Planet


Ini cerpen yang dibuat waktu UAS praktek kelas 10, gajelas banget emang ceritanya tapi buat saya ini cerpennya penuh arti banget ^^


Pluto Juga Planet

Bayangan samar-samar kulihat dibalik kedua telapak tanganku. Aku tetap mencoba membuka secara perlahan kedua kelopak mataku. Dan yah! Lagi lagi aku tertidur. Ini sudah yang kesekian kalinya aku bisa tertidur di saat pelajaran berlangsung. Apalagi pelajaran geografi, entah kenapa hanya aku yang benci pelajaran ini. Hanya aku yang dapat dengan nyenyak tidur di pelajaran ini. Padahal Pak Yosephien adalah salah satu guru terfavorit di kelas -menurut teman-temanku. Tapi kalau menurutku, Nothing!! Bukan hanya leluconya yang garing tapi karna dia selalu memanggilku lazy (pemalas)  padahal namaku kan Lizzy. Walaupun teman-teman bilang itu hanya gurauan belaka, tapi tetap saja aku tidak suka kalau Pak Yosep mengubah nama pemberian orang tuaku ini. Tapi yah, aku tetap menghargainya sebagai guru dengan tidak mengacaukan jam pelajarannya di kelasku. Makanya, lebih baik aku tidur.
Tidak sengaja aku menoleh ke sebelah kiriku. Kulihat gadis itu mengangkat tanganya dan menjungjung telunjuknya dengan semangat, Pluto -gadis yang selalu bersemangat setiap pelajaran geografi.
"Lizzy, ayo jawab pertanyaan bapak!" terdengar sayup sayup suara pak Yosep, tapi otakku cukup lelet untuk mencerna dan mengerti perkataan pak Yosep tadi.
"ah ya pak? Pertanyaan yang mana?" kataku balik bertanya. Kulihat pak Yosep mengerutkan keninggnya lalu memggelengkan kepalanya. Aku mencoba untuk mengerti keadaanya, yang kubaca hanya tulisan dan gambar bulat bulat di papan tulis.
"kenapa Pluto dinyatakan bukan sebagai planet lagi? Ayo jawab lazy!" kesal pak Yosep, lagi lagi ia memanggilku Lazy.
"eng~ itu pak~ itu~" kataku gugup. Mencoba untuk menemukan jawaban yang mungkin nyambung dengan pertanyaan itu. Namun, untuk merangkai kata pun otaku cukup sulit. "maap pak saya gak tau.." kataku pasrah. Kulihat pak Yosep terlihat sangat kesal.
"tapi pak, mungkin Pluto tau jawabanya" kataku sambil memunjuk Pluto yang masih mengacungkan jarinya. Pak Yosephien melirik Pluto.
"Ya sudah, biar bapak terangkan saja.." kata pak Yosep. Aku hanya bisa bengong. Lalu kulirik Pluto. Ia menunduk dan raut wajahnya sedih tak lama ia menegakkan kepalanya dan memperhatikan penjelasan pak Yosep lagi.

Begitulah nasib Pluto Aima Nazer, ia selalu tidak dianggap bahkan oleh pak Yosephien sekalipun. Pluto selalu dianggap aneh, bahkan terkadang dianggap bodoh. Dan orang orang tidak akan percaya kalau tau nilai IQ nya dianggap "cerdas sekali". Teman teman juga selalu menjauhinya, ataupun mengajaknya bicara, termasuk aku. Bukannya apa- apa, tapi dia itu memang aneh dan sangat menyebalkan..
"okeh, jadi satu satunya planet yang orbitnya hampir membentuk lingkaran hanyalah pluto~sehingga orbitnya memotong orbit planet neptunus" jelas pak Yosep, aku sih mengiyakan saja.
"tapi pak, pluto bukan satu satunya yang berorbit hampir melingkar pak! Merkurius juga, hanya saja orbit pluto memotong orbht planet lain sedangkan merkurius tidak" ungkap pluto sedikit mengeraskan suaranya, spontan kami menatapnya heran dan aneh. Kulihat sepertinya pak Yosep menghela nafasnya, beliau paling tidak suka kalau ada yang memotong pembicaraannya, semua anak tau akan hal itu.
"udahlah, pak Yosep udah mau meledak tuh" bisiku pada Pluto, tapi Pluto malah meliriku tajam.
"tapi kalo pak Yosep salah, ya aku harus ngelurusinnya dong" ucap Pluto dengan sedikit menyolot. Membuatku kembali menghadap kedepan, dan kagetnya kulihat pak Yosep menatapku. Sepertinya ia mendengar perkataan Pluto tadi, satu kelas juga mendengarnya sepertinya.
"apa anda merasa lebih pintar dari pada saya" tanya pak Yosep, kini ia berjalan menuju meja Pluto. Kulihat ekspresi gadis itu, tetap datar dan cuek.
"enggak Pak, pastinya bapak lebih pintar dari saya. Bapak kan sarjana, sedangkan saya masih SMA" jawab Pluto terdengar ketus.
"lalu, kenapa kamu berlagak bak profesor, kalau begitu kamu mau menggantikan saya mengajar di depan?" ucap pak Yosep, ia mulai marah sepertinya.
"trus bapak gak ngajar? Makan gaji buta dong?" celetuk Pluto. Okeh,sepertinya Pluto kurang mengetaui tatakrama anak yang sedang dimarahi -JANGAN ASAL BICARA-
"ah! Ya Tuhan! PLUTO!"
"Pak-pak, maafin Pluto pak" ucapku mencoba menenangkan pak Yosep. Seketika Pluto dan pak Yosep menatapku tajam. Niatku untuk menenangkan mungkin sukar terlaksana. Bahkan pak Yosep tambah mengangkat alisnya. Baiklah! Seharusnya aku diam.
Di tengah ketegangan, tiba tiba semua terenyak saat bel istirahat berbunyi cukup keras. Namun, tidak seorangpun siswa yang bersiap untuk pergi ke kantin semua tetap diam dengan sigap ditempatnya menunggu pak Yosep bereaksi.
Kulihat pak Yosep menghela nafasnya kemudian. Ia pun berjalan ke depan kelas lalu menaruh spidol di tangannya ke atas meja.
"semuanya bisa istirahat, kita lanjutkan pelajaran setelah istirahat" ucap pak Yosep seraya berjalan ke luar kelas.
Setelah pak Yosep menghilang di ambang pintu, barulah semua siswa menghela nafas panjang. Kudengar bisikan disana-sini, mereka pasti  sedang mencibir Pluto dan kejadian tadi.
Setelah itu, mereka mulai beranjak dari tempat mereka dan pergi ke luar kelas mencari udara segar. Kulihat Beberapa temanku, Raina, Zinger, dan Jezz berjalan ke arahku.
"zzy, ayo kita ke kantin~" ajak Jezz sambil menarik lenganku lembut.
"maaf nih, kayaknya aku gak ikut kekantin, antisipasi ~" kataku seraya mengambil buku geografi "mungkin nanti aku yang dijadiin obyek kekesalan ama pa yosep" kataku pasrah.
"kamu yakin mau sendiri di kelas" ucap Raina, sambil melirik pluto yg ada di sebelahku. Aku pun ikut menatap pluto yg sedang serius membaca buku itu.
"gak kok, kan ada pluto"
"yaudah, kita ke kantin ya.. Dah lizzy~" mereka pun pergi meninggalkan kelas. Tinggal aku dan Pluto yang bertahan untuk tetap di kelas. Bagi Pluto mungkin biasa, waktu istirahatnya ia gunakan untuk membaca atau pergi keperpustakaan, sepertinya. Aku juga tidak tau mendetail tentang jadwalnya. Tapi, yang aku tau dia selalu ada dipojok kelas kalau tidak ya di perpustakaan.
"Plut, kenapa sih tadi kamu sampai segitunya sama pak Yosep?" tanyaku, namun pluto tak bereaksi. Ia tetap pada posisinya. Aku hanya mendesah pelan.
"aku cuman gak suka, Pak Yosephien  nyudutin pluto" katanya, namun ia tetap pada posisinya. Aku terdiam sebentar, otakku sedang mencoba mencerna, yang di maksud Pluto : dia atau Pluto : planet.
Tiba tiba ia beranjak dari tempat duduknya, dan menaruh sebuah buku di depanku dengan kasar. "kamu bisa baca, merkurius juga punya orbit yang menyerupai lingkaran. Tapi tadi dia bilang cuman pluto yang kayak gitu..aku gak suka kalo Pak Yosep ngebeda - bedain pluto sama yang lain" jelas pluto di hadapanku. Dia menatapku seolah ingin aku mengerti perkataanya.
"ya tapi kan gak usah sampe buat pak yosep marah kan?" tanyaku heran.
"aku gak tau kenapa, orang orang slalu ngebeda bedain pluto, padahal mereka kan sama, cuma bongkahan batu yang tertarik gaya gravitasi. Walaupun pluto itu sekarang cuman jadi planet kerdil " ungkapnya, kukira dia sedang curhat padaku dan mengkonotasikan dirinya sebagai Pluto. Yak! Memang.
"yang ditertawakan karna ukurannya yang lebih kecil dari satelitnya, dijauhin sama planet lain. Pernah mikir gak, kalau Pluto itu manusia, gimana perasaan dia sekarang?" aku terdiam saat mendengarnya. Hanya berfikir apakah itu semua yang ia rasakan slama ini?  Sepertinya, sulit untuk Pluto bertahan, tapi ia tetap mencoba untuk dianggap 'ada', dan aku mulai berfikir bagaimana kalau Pluto itu aku? Bagaimana kalau yang tidak dianggap itu aku? Apa aku bisa sekuat pluto? Mungkin aku sudah merengek minta pindah sekolah atau HoomSchooling sekalian.
Akupun kini menatap Pluto, gadis itu menampakkan aura kesedihan diwajahnya. Ia juga menatapku.
"aku harap kamu ngerti kenapa aku ngotot sama pak Yosep tadi" ucapnya lirih lalu kembali duduk di kursinya. Kaku didera rasa bersalah pada Pluto. Tidak seharusnya dia diberlakukan seperti itu. Hah! Bodohnya aku baru mengerti sekarang.
"tapi mungkin Pluto tidak akan terlalu sedih" ucap Pluto ditengah lamunanku.
"kenapa?" tanyaku, kini ia menghadapku dan tersenyum.
"masih ada pesawat NASA 'New Horizons' yang tetap berusaha mencari tau tentang Pluto, walaupun mungkin secara perlahan dan membutuhkan waktu yang cukup lama tapi pasti ada saatnya New Horizons sampai di Pluto lalu memberitau semuanya akan keindahan Pluto " katanya, ia pun mengembangkan senyuman yang cukup cerah. Entah mengapa aku juga ikut tersenyum.
Tak terasa bel masuk berbunyi, semua siswa sudah harus kembali menimpa ilmu dikelas mereka masing-masing. Teman temanku juga sudah ada di tempat duduk mereka. Tak lama kulihat sosok pak Yosep muncul, wajahnya sumringah berbeda jauh dengan sebelum istirahat tadi.
"okeh,kita mulai lagi..sekarang bentuk kelompok cukup 2 orang  " kata pak Yosep seraya mengeluarkan buku-bukunya.
Entah mengapa aku langsung melirik sisi kiriku dan kulihat gadis itu, dia menatapku heran.
"sekelompok denganku?" tawarku, ia terbelak kaget.
"aku?" tanya Pluto heran, aku mengangguk. Mungkin walaupun aku tidak bisa menjadi teman dekatnya. Tapi, mungkin aku bisa menjadi New Horizons untuk Pluto. Aku pun tersenyum padanya.
"oke, mari kita anggap seolah Pluto juga Planet, tak ada yang membedakan kedunya" kataku semangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar