Author: Mr.awesome
Main cast: Yang SeungHo (MBLAQ), Park SoYeon (T-ARA), Bang CheolYong (MBLAQ), Park Kahii (AS)
Other cast: Park SangHyun (MBLAQ), Lee Changsun (MBLAQ), Jung ByungHee (MBLAQ), Lee JooYeon (AS), Jeong Jihoon, Sandara Park (2NE1), Kim JungAh (AS) And Other
Rating: PG
Length: -
Genre: Romance, Angst
Disclaimer: The Plot of this Fanfic is mine, the characters are all belong to themselves,but Yang Seungho is mine kkeke
Main cast: Yang SeungHo (MBLAQ), Park SoYeon (T-ARA), Bang CheolYong (MBLAQ), Park Kahii (AS)
Other cast: Park SangHyun (MBLAQ), Lee Changsun (MBLAQ), Jung ByungHee (MBLAQ), Lee JooYeon (AS), Jeong Jihoon, Sandara Park (2NE1), Kim JungAh (AS) And Other
Rating: PG
Length: -
Genre: Romance, Angst
Disclaimer: The Plot of this Fanfic is mine, the characters are all belong to themselves,
Part 2
"tsk, kenapa hyung tidak mengangkat telpon ku sih!" kesal Soyeon. Sekarang ini sudah menunjukan pukul 9, tapi hyungnya itu belum juga datang. Seungho tidak pernah bisa meninggalkan Soyeon sendiri dirumah sampai jam segini. Kalau sekiranya ia akan pulang larut, Seungho akan langsung menelpon Soyeon dan memintanya untuk menginap dirumah Dara onnie.
-tengtong!-
suara bel apartementnya berbunyai, Soyeon langsung berlari kepintu dengan semangat.
"hyungggg!" seru Soyeon senang sambil membuka pintu.
"hyung?" seketika Soyeon mematung di tempatnya saat ia melihat hyungnya itu sedang menggendong seorang wanita yang sama sekali tak dikenalinya.
"kau mau terus berdiri disana?" ucap Seungho setelah ia masuk ke apartementnya itu "bantu aku menangani unnie ini" titah Seungho,
"nee?"
"ppali ya! Tanganku lelah.." rintih Seungho, raut wajah Soyeon berubah menjadi kesal.
"shireo!!" pekik Soyeon "aku tidak mengenali unnie itu.." katanya kesal.
"baiklah, akan kuceritakan nanti. Sekarang bantu aku dulu, hyung pinjam kamarmu ya"
"nee?"
*
Seungho membaringkan tubuh Kahii di atas tempat tidur milik Soyeon, dan menyelimutinya. Lalu ia menatap Soyeon yang berdiri di pintu menatapnya kesal.
Kahii terlalu banyak minum hingga ia sekarang mabuk berat. Awalnya Seungho ingin mengantarnya pulang, tapi Seungho tidak tau dimana ia tinggal. Ia juga merasa resah karna meninggalkan Soyeon sendiri di rumah. Makanya ia memutuskan membawa Kahii ke apartementnya.
"kau marah pada hyung?" tanya Seungho pada Soyeon yang kini sedang duduk di depan tivi sambil mengganti ganti chanelnya, tanpa sedikitpun menghiraukan Seungho yang kini duduk disebelahnya.
"Soyeonna.." panggil Seungho lagi "so..yeoonn..nnnaaa" ulang Seungho dengan nada yang aneh, dan kali ini berhasil mengalihkan pandangan Soyeon.
"mwoo? Mwoga?" ucap Soyeon galak.
"apa kau marah padaku?" ucap Seungho sekali lagi, kali ini dengan wajah yang so'imut.
"YA! AKU MARAH PADAMU HYUNG! Wae~" pekik Soyeon, namun tiba tiba berhenti saat Seungho mengeluarkan suatu benda berbentuk persegi.
"yah, sayang sekali..awalnya aku akan memberikan album ini saat kau tidak sedang marah, tapiii" belum juga Seungho menyelesaikan kalimatnya, Soyeon langsung memyambar benda kotak itu. Sebuah album dari grup favorit Soyeon yaitu 4MEN.
"uwwah! Kenapa kau bisa mendapatkanya?"
"bar yang kudatangi itu bersebelahan dengan sebuah toko kaset, sebelum pergi ke bar aku mampir dulu ke sana dan membeli ini" jelas Seungho." kau tidak marah pada hyung lagi kan?" lanjutnya lalu menatap Soyeon yang sedang menimbang nimbang sambil memandangi album 4men ditanganya itu.
"baiklah" katanya, Seungho tersenyum padanya " tapi jelaskan dulu siapa unnie itu?"
"kau tidak mengenalinya?" tanya Seungho, Soyeon menggangguk karena memang ia tidak tau.
"mmm, dia hanya klien baruku, dia mencurahkan kesedihannya dengan minum, sampai ia bisa menjadi seperti sekarang" jelas Seungho, tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai Kahii
"oh." tanggap Soyeon singkat.
"tidak tidur?"
"tidur dimana? Kamarku dipakai orang lain.." kata Soyeon dengan nada sedikit kesal, walaupun Seungho telah menjelaskan tentang wanita itu tapi ia tetap tidak menyukainya.
"haha, baiklah kau tidur dikamar ku, biar aku tidur disofa" ucap Seungho membuat Soyeon menatapnya
"bolehkah?"
"aku yang membuat kamarmau dipakai unnie itu, jadi aku yang harus bertanggung jawab. Tidurlah ini sudah larut"
"keudae, anyeong hyung" kata Soyeon seraya meninggalkan tempat duduknya.
"mau kemana?" tanya Seungho saat melihat Soyeon tidak berjalan ke arah yang sebenarnya harus ia lalui.
"aku mau ke kamarku dulu mengambil walkman ku" kata Soyeon, ia pun berjalan menuju kamarnya.
Soyeon berjalan dengan hati hati, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara. Walaupun ia tidak teralu suka wanita ini, tapi jika menggangu orang tidur itu sama saja tidak sopan. Setelah ia mencari keberadaan barang cariannya itu ia pun mengambil walkmanya sambil sesekali menatap onnie itu.
"appa! Eomma!"
langkah Soyeon terhenti saat tiba tiba onnie itu mengatakan sesuatu, Soyeon pun berbalik.
"appaaaa...!" sekali lagi wanita itu mengigau, Soyeon terdiam menatapnya.
"masalahmu pasti berat onnie, aku hargai itu, tenanglah aku orangnya pengertian kok" gumam Soyeon "tapi, jangan kau ambil hyung ku. Ya.. Ara? Aku tidak bisa pengertian dengan hal yang satu itu" lanjutnya lagi seperti sedang melayangkan peringatan pada wanita itu. Lalu ia keluar kamar dan pergi tidur di kamar Seungho.
*
Tak terasa fajar pun menemui harinya, di iringi hembusan angin pagi yang menyegarkan. Kahii terjaga dari tidurnya dan ia merasakan pening di kepalanya. Ia mulai menggerutu di hatinya, kenapa ia harus pergi minum minum sampai mabuk seperti ini, ia benci rasa pening yang biasa muncul sebagai efek minum minum ini. Kahii terdiam, ia masih belum bisa mengingat dimana ia sekarang.
"aah, gadis itu." kata Kahii saat melihat salah satu foto yang ada di kamar itu. Ia baru teringat kalau ia sedang ada di kamar Soyeon, keponakannya Yang Seungho.
Ia pun beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi hanya untuk sedikit membasuh wajahnya. Setelah itu ia pergi ke luar kamar, dan mendapati Soyeon sedang duduk di meja makan sambil meminum segelas susu.
"anyeong Soyeonna" sapa Kahii, iapun diduk di sebelah Soyeon.
"hmmm.." gumam Soyeon dengan malas, maksudnya sih hendak membalas sapaan Kahii.
"oppamu kemana?"
"oppa? Hyung maksudmu? Dia sedang pergi ke mini market, membeli bahan untuk sarapan" katanya sambil memainkan gelas di hadapannya. Kahii mengangkat alisnya saat ia tau Soyeon memanggil Seungho dengan sebutan hyung, tidak biasanya seorang anak perempuan seperti itu.
"kenapa onnie memandangku seperti itu?" tanya Soyeon saat mendapati Kahii sedang menatapnya sambil tersenyum.
"anii, hanya lucu. Sifatmu tak jauh beda dengan Seungho" kata Kahii sambil tersenyum.
"tentu saja, aku kan keponakannya"
"bukan karna itu. Tinggal dengannya saat masa pertumbuhanmu berlangsung, Seungholah yang kau lihat setiap hari membuat sifatmu sama sepertinya" jelas Kahii, Soyeon terdiam.
"memang kau tau sifat hyungku seperti apa? Sebenarnya apa hubunganmu dengan hyungku?" tanya Soyeon beruntun.
"hahaha, aku hanya klien hyungmu kok, jangan takut aku akan mengalihkan perhatian hyungmu" kata Kahii tergelak "dan, cita citaku sebagai psikolog membuatku senang membaca buku tentang psikologi, hanya dari pengelihatanku aku bisa mengerti sifat seseorang" lanjutnya "aku senang kau bisa punya orang yang akrab denganmu" ucap Kahii sambil tersenyum pahit, lagi lagi Soyeon hanya bisa terdiam tanpa menyadari maksud Kahii yang sebenarnya.
"anyeoooong!" sapa Seungho, tangannya penuh dengan barang bawaannya dari mini market.
"ahh, Kahii~shi? Kau sudah bangun?"
"terimakasih sudah membawaku kemari, aku jadi bisa mengobrol dengan Soyeon" ucap Kahii disambut dengan tatapan aneh Soyeon padanya. Apanya yang mengobrol? Gumam Soyeon.
"benarkah?haha, kalau begitu aku akan memasak sesuatu yang enak hari ini" kata Seungho seraya mengeluarkan beberapa bahan makanan.
"tidak usah! Biar aku yang memasak untuk kalian, sebagai rasa terimakasihku,otte?" ucap Kahii seraya membawa semua bahan makanan ke pantry.
"oh, ternyata kau bisa memasak juga Kahiishi?" ujar Seungho, membuat Soyeon merasa dipojokkan.
"ah, tidak juga. Kalau dirumah aku biasa masak sendiri. Walaupun ada pembantu, tp aku lebih suka makan makanan sendiri" jelas Kahii, membuat Soyeon jengkel.
"biasanya appa yang memasak, tapii ...."Kahii terdiam lalu pandangannya mengarah pada Soyeon "sudahlah, itu masa lalu" kata Kahii lalu tertawa pelan.
"keude.." ucap Kahii sambil membawa 2 piring dari pantry "tadaaa"
"uwoow.." kagum Seungho, saat melihat makanan yang tersaji didepannya. "waah, sepertinya enak, baiklah selamat makan!!" ujar Seungho lalu memakan makanan buatan Kahii tersebut. Soyeon hanya memandang makanan itu. Lalu menatap Seungho yang makan dengan lahap. Pemandangan yang jarang didapati dari seorang Seungho.
"waah! Aku tidak pernah aku merasakan makanan seenak ini!" kagum Seungho lagi, yang membuat Soyeon tambah kesal.
"ia tidak pernah mengatakan kalau masakan buatan ku enak" gerutu Soyeon dalam hatinya. Kahii mendapati ekspresi Soyeon yang benar benar kesal.
"Soyeonna, tidak makan juga?" tanya Kahii,
"ah?? Nee" jata Soyeon lalu mengambil sumpitnya.
"kau dapat resep ini dari mana?" tanya Seungho antusias.
"ah..ini eksperimen ku sendiri, hanya coba coba, tapi ternyata berhasil." jelas Kahii sambil tersenyum simpul.
"wah, kau pantas jadi koki kalau begitu. Kelak aku juga akan mencari bibi untuk Soyeon yang pandai memasak" kata Seungho lalu mematap Soyeon.
"uriSoyeon, sangat suka makan. Tapi ia tidak bisa memasak" ucap Seungho lalu tertawa, Kahii ikut tersenyum. Tapi Soyeon sama sekali tidak menanggapinya
Soyeon merogoh handphonenya yang ia simpan di dalam saku celananya.
"ah..Jiyeonna? Ada apa?" ucap Soyeon.
"ahh..keudae, aku akan ketaman sekarang..nee" kata Soyeon lalu meletakan handphonenya di atas meja makan lalu beranjak dari kursinya.
"josunghamnida, aku tidak menemani kalian sampai sarapan habis, aku harus pergi sekarang" ucap Soyeon pada Kahii lalu berbungkuk sedikit.
"hyung, !"
"neeh?"
"aku menemui Jiyeon dulu,...ah~" kataSoyeon seperti mengingat sesuatu lalu berlari menuju kamarnya.
Buru buru Seungho meraih handphone Soyeon yang ada di atas meja.
"tidak ada panggilamn masuk dari Jiyeon?" gumam Seungho, lalu meletakan kembali hpnnya di tempat semula. Tak lama Soyeon datang membawa hoodinya.
"aku pergii" sahut Soyeon seraya mengambil handphonenya itu.
"wae geurae?" tanya Kahii pada Seungho yang tiba tiba terdiam sejak Soyeon pamit keluar tadi.
"ahh, a..ani" jawabnya, walaupun sebenarnya ia merasa ada yang aneh pada gadis itu.
*
"apa lagi sekarang?" pekik Jiyeon setibanya ia di taman. Pada kenyataannya, bukan Jiyeon yang menelpon Soyeon apalagi memintanya datang ke taman. Tapi, Soyeonlah yang menelpon dan meminta Jiyeon datang ke taman.
Jiyeon terdiam saat ia mendapati Soyeon yang sedang memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnyanya diatas tangannya. "Soyeonna~, wae geurrae?" tanya Jiyeon yang mulai terlihat khawatir.
"Soyeonna.. Jawab aku!" kata Jiyeon lagi. Sepersekian detik kemudian, Soyeon mangangkat wajahnya dan langsung memeluk Jiyeon.
"wae?" tanya Jiyeon lagi dan lagi. Seketika Soyeon langsung menangis.
"apa tentang Seungho hyung lagi?" selidik Jiyeon, Soyeon mengangguk dan masih terus menangis.
"sekarang apa lagi?" tanya Jiyeon sambil menjauhkan Soyeon darinya.
"hyung membawa seorang yeoja kerumah, huaaa"jelas Soyeon sambil sesenggukan.
"jeongmal?" Jiyeon terlihat kaget dengan apa yang ia dengar.
"walaupun dia bilang kalau yeoja itu kliennya, tapi tapi.... Tetap saja aku tidak suka"
"ditambah Seungho hyung selalu memujinya di depanku" lanjutnya lalu menunduk, Jiyeon mulai merasakan bagaimana perasaan Soyeon kali ini.
"pasti saat itu, perasaanmu buruk sekali?huh?" kata Jiyeon lembut lalu memeluk Soyeon.
"apa yang harus kulakukan sekarang??" rintih Soyeon.
"bagaimanapun hari ini harus menaikan moodmu dulu, ice float?"
*
Soyeon dan Jiyeon kini duduk di salah satu kedai icecream di mall . Tempat yang paling Soyeon suka dari segala tempat yang pernah ia datangi.
"permisi, ini 2 ice float " ucap seorang pelayan yang baru saja datang "silahkan dinikmati" lanjutnya setelah meletakan 2 cup ice float ke meja. Soyeon langsung menyambutnya dengan semangat dan mulai mencicipinya.
Ice Float merupakan satu satunya jenis minuman yang paling Soyeon suka. Pertama kali ia mendapatkannya saat upacara pemakaman orangtuanya. Saat itu ia merasa ice float itu bisa membuatnya hidup kembali (?) eskrim dapat menenangkan hatinya dan setiap soda yang melewati tenggorokannya terasa seperti butiran butiran kesedihan yang ia pendam hingga rasa soda itu hilang berikut dengan kesedihan yang ia rasakan. Itulah kenapa ia terlalu suka dengan yang namanya Ice float.
"apa kau senang?" tanya Jiyeon.
"sangat senang!" seru Soyeon dengan girang lalu menyeruput lagi ice floatnya.
"ckck, dasar bocah ini, tadi saja menangis " celetuk Jiyeon.
"anyeong!" seru seorang namja, namja itu lalu duduk di sebelah Jiyeon. Soyeon dan Jiyeon hanya bisa bengong dengan kehadiran namja tersebut.
"yak! Son Dongwoon! Kenapa kau duduk disini?" pekik Jiyeon pada namja tersebut yang bernama Son Dongwoon.
"yak! Park Jiyeon! Perlukah kau berteriak! Aku juga punya telinga! Ada dua pula!" balas Dongwoon dengan sedikit kesal.
"yak! SonDongwoon! Suruh siapa kau kabur begitu saja! Icecoffe mu itu beluum dibayar!" pekik seorang namja yang baru datang, dia marah marah karna ia yang membayar pesanan Dongwoon.
"astaga, ya tuhan kenapa dunia ini dipenuhi orang orang yann senang berteriak sih"gerutu Soyeon dalam hatinya.
"hhe,mian" kata Dongwoon cengengesan "karna aku melihat Jiyeon jadi aku cepat cepat kesini" ungkap Dongwoon lalu tersenyum pada Jiyeon, tapi Jiyeon membalasnya dengan sebuah delikan tajam.
"ahh, anyeong Jiyeon~shi, ehm Soyeon~shi.." sapa namja itu lalu tersenyum pda Jiyeon dan Soyeon bergantian.
"anyeong sunbae"
balas Jiyeon, sedangkan Soyeon hanya membalasnya dengan senyuman.
"maaf, gara gara bocah ini, hidup kalian jadi tidak tenang," kata namja itu seraya duduk di sebelah Soyeon, jiyeoon dan Soyeon hanya bisa tersenyum.
"yak! Cheolyongaa, hari ini aku ada kencan dengan Jiyeon jadi kau temani Soyeon ya! Benarkan Jiyeonaa?" celetuk Dongwoon membuat ketiga orang temannya itu kaget menatapnya.
"apa maksudmu?" tanya Jiyeon kesal.
"aku dan kau kan akan pergi kencan, jadi Cheolyong yang menemani Soyeon. Betul kan?" kata Dongwoon lalu mengedipkan satu matanya pada Jiyeon.
"ahh, iya..hahaha" seru Jiyeon saat ia mengerti apa maksud Dongwoon "aku baru ingat sekarang, mian Soyeonaa, kau dengan Cheolyong sunbae dulu saja ya, nanti kalau kencanku sudah beres aku akan kembali" kata Jiyeon sambil beranjak dari kursinya. "anyeong" kata Jiyeon lalu mengikuti Dongwoon yang sudah dahulu pergi.
"tapi...."seru Soyeon tapi Jiyeon dan Dongwoon sudah terlalu jauh. Soyeon dan Cheolyong speechless.
"aku tidak tau kalau mereka sudah sedekat itu" ucap Soyeon memecahkan keheningan saat itu.
"aku saja tidak tau kalau Jiyeon sudah tidak alergi lagi pada Dongwoon" tanggap Cheolyong yang sama sama bingung akan kedekata Jiyeon-Dongwoon tadi. Soyeon tertawa kecil, Cheolyong pun ikut tertawa.
"beli ice float lagi?" tanya Cheolyong sambil melirik gelas yang di gennggam Soyeon.
"nee? Oh, iya...aku sedang ingin minum ice float"ungkap Soyeon. Ia masih merasa canggung saat mengobrol dengan Cheolyong, selain karna ia tahu kalau Cheolyong menyukainya, tapi juga karna Cheolyong terkenal sedikit mesum. Entah mengapa, Soyeon takut pada hal yang seperti itu.
"apa kau sedang sedih?" celetuk Cheolyong,
"nee?" Soyeon sedikit kaget, kenapa Cheolyong dapat menanyakan hal yang seperti itu.
"kau sedang sedih ya, makanya minum ice float?"tanya Cheolyong lagi.
"kenapa sunbae bisa tahu?" tanya Soyeon heran, lalu Cheolyong mennyinggungkan senyuman diujung bibirnya.
"hanya tau saja, kau selalu kesini, saat itu raut wajahmu menunjukan kalau kau sedang sedih, dan kau selalu memesan menu yang sama" jelas Cheolyong lalu tersenyum.
"wow, kau memperhatikanku sampai ke tingkat yang rinci seperti itu?" aku Soyeon kagum.
"ehhem..tidak juga" Cheolyong berdehem, menahan rasa grogi yang sekarang menderanya.
"cuman orang terdekatku yang tau hal seperti itu" ungkap Soyeon lalu tersenyum manis pada Cheolyong
"benarkah? Tapi, apa tidak ada efek samping? Kalau kulihat kau terlalu sering minum icefloat."
"pasti ada, gara gara icefloat aku jadi punya penyakit lambung" aku Soyeon lalu menunduk. Ia teringat saat ia masuk rumah sakit akibat mengkonsumsi banyak icefoat yang mengandung soda. Sehari ia bisa menghabiskan 5 gelas icefloat. Ini terjadi setelah kematian kedua orangtuanya, dimana ia mengalami trauma dan depresi saat itu.
"mau jalan jalan?" tawar Cheolyong, memecahkan keheningan yang ada.
"nee?"
"mungkin... Dongwon dan Jiyeon kembali lebih lama dari pada yg kita kira, kau mau menunggu Jiyeon disini atau ikut aku jalan jalan?" kata Cheolyong memberi penawaran.
"emm, aku fikir juga begitu, lebih baik ikut sunbae saja daripada harus menunggu Jiyeon disini" kata Soyeon polos. Cheolyong pun tertawa kecil lalu beranjak dari kursinya.
"kajja.."
*
Kahii terus menatap Seungho yang sedang serius mengemudi, hingga pria tersebut menyadari kalau wanita disebelahnya itu tidak henti henti memandanginya.
"apa ada yang salah?" katanya tertawa
"anii" Kahii lngsung menundukan kepalanya "emm,Seunghoshi,"
"nee?"
"sepertinya,...aku suka pada...." Kahii berhenti sejenak untuk mengambil nafas "keponakanmu, dia terlalu menggemaskan." lanjutnya, lalu tersenyum. Seketika Seungho langsung menatap wanita itu kemudian ikut tersenyum.
"dia memang begitu, sangat pandai dalam mengambil hati seseorang" ungkapnya sambil terus fokus mengemudi.
"Soyeon begitu pintar menutupi perasaannya" celetuk Kahii, Seungho kembali menatap wanita itu sekilas. Namun, kini ia tidak mengerti dengan ungkapan Kahii tersebut.
"aku iri padanya bisa begitu ceria seperti tidak pernah terjadi sesuatu padanya" lanjut Kahii diiringi sebuah senyum kecut. Baginya ceria merupakan kata yang aneh baginya, aneh karena ia tidak pernah merasakannya lagi sudah begitu lama.
"aku tidak akan pernah membiarkan Soyeon merasa sedih" kata Seungho membuat Kahii tidak menyinggungkan senyumnya lagi.
"itulah yang membuatku iri" ucap Kahii, ia terus mengepalkan kedua tangannya. "banyak orang yang ingin menjaganya, tidak ingin membuatnya sedih" lanjutnya yang kini membuat Seungho menatap wanita itu sedikit kasihan
"bukankah banyak pengawalmu, juga saudara saudaramu?"
"pengawal?? Mereka bekerja bukan untuk melindungiku tapi untuk dibayar" katanya dengan malas "saudara? Mereka bukan ingin menjagaku, tapi ingi n menjaga harta warisan appa"lanjutnya, dan kali ini membuat mereka berdua diam seketika. Pembicaraannya mereka lakukan tidak berlanjut sampai mobil Seungho berhenti di salah satu mall di seoul.
"kenapa kita kesini?"tanya Kahii heran.
"banyak keceriaan disini, aku ingin membuatmu lebih iri" ujar Seungho lalu tersenyum menyeringai seraya melepas sabuknya lalu keluar dari mobil.
"nee?" Kahii terlihat sangat bingung lalu mengikuti Seungho masuk ke dalam mall tersebut.
Seungho berhenti di sebuah kedai icecream yan berada di lantai dua. Sejak awal, Seungho terlihat sedikit cemas dan seperti sedang mencari sesuatu. Seungho berjalan menuju tempat pemesanan di ikuti Kahii dibelakangnya. Seungho terus memperhatikan sekitarnya, sepersekian menit kemudian Seungho terlihat kecewa.
"apa yang sebenarnya kau cari?" tanya Kahii sesaat setelah mereka duduk di salah satu meja di kedai icecream itu.
"tidak, aku hanya ingin minum minuman dingin, aku juga memesan satu untukmu" kata Seungho, lalu pelayan datang membawa pesanan mereka. Pelayan itu menaruh dua cup ice yang berbeda warna.
"kau tidak suka icecoffee?" tanya Seungho saat melihat Kahii hanya diam dan bingung sambil menatap icecoffenya.
"aku suka " katanya lalu meminum icecoffenya "bagaimana dengan tawaranku kemarin, kau sudah punya keputusan kan?" tanya Kahii membuka topik pembicaraan.
"sebenarnya aku telah memutuskanya, tapii..." Seungho terdiam sejenak sambil berfikhr kembali tentang jawabanya itu. Kahii terus menunggu Seungho kembali berbicara "baiklah, kita lanjutkan kasus ini..asal kita harus merahasiakannya pada Soyeon" ucap Seungho dengan tatapan mata yang serius.
"baiklah.." tanggap Kahii lalu menyeruput kembali icecoffenya.
"pertama, untuk membuka kembali kasus ini, kita harus mencari bukti " lanjutnya,
"apa yang sudah kau temukan??" tanya Seungho, Kahii menggelengkan kepalanya.
"mungkin aku belum menemukam bukti yg kuat, mungkin kita sedikit terlambat, pelaku itu pasti sudah membersihkan seluruh jejaknya selama 5 tahun ini" keduanya pun terdiam, lebih sering berfikir.
"tapi, aku tau satu orang yang bisa memberikan kita petunjuk"
"nugu?"
"kau kenal Park JinYoung?" tanya Kahii pada Seungho.
"mm, sepertinya aku tidak mengenalinya, tapi aku sering dengar byunghee hyung membicarakanya" jelas Seungho.
"JinYoung ahjussie, merupakan salah satu orang kepercayaan appa, dia menghilang setelah kematian byunghee ahjussie" kata Kahii memberikan pernyataan yang membuat Seungho sedikit bingung.
"jadi kau mengira kalau jinyoung ada sangkut pautnya dengan kasus ini?" selidik Seungho. Lalu Kahii menggelengkan kepalanya.
"aku hanya berfikir, dia pasti menyembunyikan sesuatu, entah dia pelakunya atau mempunyai barang buktinya"
"yang aku ingat, byunghee hyung sering menyebutkan kalau jinyoung merupakan paman dari ayahmu, dan dekat dengan byunghee hyung saat mereka masih berada di Hwasun," jelas Seungho, tiba tiba Kahii tersenyum.
"ayo kita ke Hwasun, mungkin dia bersembunyi di kampung halamanya" kata Kahii bersemangat. Seungho tertawa melihat semangat Kahii yang jarang ia lihat.
*
Soyeon tertawa melihat wajah pucat Cheolyong saat mereka sedang menaiki salah satu wahana di arena bermain mall tersebut. Soyeon baru tau, Cheolyong yang terkenal sebagai pemuda yang cool bisa takut pada ketinggian.
"apa kau benar benar takut ketinggian?" tanya Soyeon sekali lagi pada Cheolyong yang terus merapatkan tubuhnya ke sisi wahana tersebut.
"kau bisa lihat sendiri!" kata Cheolyong dengan suara yang sedikit tertekan. Soyeon tatap kembali wajah Cheolyong dan memperhatikan lagi Cheolyong dan juga keringat keringat yang mengucur di sekitar pelpisnya.
"mian,..." ucap Soyeon sedikit kasihan. "habis ini kita pulang saja ya" tawar Soyeon, Cheolyong sedikit tidak setuju karena hal itu akan mengurangi waktu kebersamaanya dengan Soyeon.
Lama lama kereta gantung itu mulai merapat ke stasiun pemberhentiannya pertanda tidak ada lagi ketinggian yang bisa membuat Cheolyong takut setengah mati, ia pun menghempaskan nafas panjang setelah ia mendaratkan kakinya ketanah.
"ayo kita keluar" kata Soyeon sambil menarik tangan Cheolyong menuju keluar arena bermain tersebut.
"lain kali kita main kereta gantung itu lagi ya" pinta Soyeon disambut dengan tatapan kau-mau-membunuhku dari Cheolyong. Soyeon tergelak.
"tenang, aku tidak akan membuatmu jantungan secepat itu..haha" kata Soyeon sambil tertawa.
Namun langkahnya terhenti saat mendapati kehadiran sosok pria yang berdiri tak jauh di depanya.
"eh, bukankah itu hyung mu?" kata Cheolyong lalu mencolek colek punggung Soyeon. Namun Soyeon tetap menatap pria itu, Yang Seungho, dengan tatapan kesal. Apalagi setelah melihat Kahii berada di belakaang Seungho, ia menunduk lalu kini malah menatap Cheolyong.
"khajja" kata Soyeon lalu menarik lengan Cheolyong menuju pintu keluar mall tersebut.
"Seunghoshi.." kata Kahii saat melihat ekspresi Seungho yang terlihat marah setelah Soyeon pergi, tanpa mengatakan sepatai katapun pada Seungho.
"aishh, anak itu!" gumam Seungho kesal, lalu berlari meninggalkan Kahii.
Seungho pun berlari mengejar Soyeon yang masih berada di dekat pintu keluar mall tersebut. Dengan paksa Seungho menarik lengan Soyeon lalu menyeretnya menuju mobil Seungho yang terparkir diluar mall. Soyeon terus berusaha menahan Seungho, dan mencoba untuk melepaskan tangan pria itu darinya, tapi tenaga Seungho sudah pasti lebih besar darinya.
Seungho membuka pintu mobil bagian penumpang dan menisyaratkan Soyeon untuk masuk. Soyeon hanya diam, karna dia memang tidak mau pergi. Terpaksa Seungho sedikit mendorong Soyeon lalu Soyeon akhirnya masuk ke dalam mobil dengan perasaan pasrah. Setelah itu Seungho ikut masuk dan memasangkan seftybelt Soyeon dan tentu miliknya juga. Ia pun menstater mobilnya lalu pergi dari parkiran tersebut.
*
"sekarang katakan pada hyung, apa yang terjadi padamu hari ini?" ucap Seungho dengan hati hati namun serius pada Soyeon yang duduk didepannya. Soyeon hanya diam sambil sedikit menunduk, ia tidak berani menatap Seungho yang terlihat marah itu.
"kenapa kau berbohong pada hyung kalau kau mau bertemu Jiyeon?" tanya Seungho lagi namun dengan nada yang lebih tenang.
"aku tidak berbohong, aku memang keluar untuk bertemu Jiyeon kok" kata Soyeon membela diri.
"Jiyeon mana?? Apa Jiyeon sudah berganti kelamin menjadi seorang pria?" cibir Seungho.
"itu bukan Jiyeon hyung! Aku tadi memang bertemu Jiyeon, dia mengajakku minum icefloat, lalu kami bertemu dongwoo sunbae dan Cheolyong sanbae" Soyeon berhenti untuk mengambil nafas "dan ternyata Jiyeon ada kencan dengan Dongwoon sunbae, alhasil tinggal aku dan Cheolyong hyung, dia mengajaku main..ya aku ikut saja..." lanjutnya.
"lalu kenapa kau berpura pura tidak mengenaliku tadi?"
"itu karena aku kesal pada iyung!" pekik Soyeon.
"kenapa kau kesal padaku?"
"karna aku tidak suka melihat hyung terus berdua dengan Kahii onnie!" sekali lagi Soyeon berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Tiba tiba Soyeon terdiam "omo, apa yg aku katakan? Tskk" batinya berkata. Soyeon terus diam sambil menunggu ekspresi Seungho.
"kau cemburu?" tanya Seungho dengan hati hati. Wajah Soyeon mulai memerah.
"anii.!"
"apa kau menyukaiku?"
DEG
Soyeon kembali terdiam, tubuhnya tidak bisa digerakan, dan ia merasa seperti ada yang tertahan ditenggorokannya. Soyeon kaget kenapa Seungho bisa menanyakan hal yang seperti itu. Tak lama Seungho tersenyum penuh arti.
"CHOA! AKU MEMANG SUKA PADAMU HYUNG!" pekik Soyeon laru berlari ke kamarnya.
*
sebenarnya Kahii merasa sedikit kesal pada Seungho, karna telah meninggalkanya sendiri. Ia pun memutuskan untuk pulang kerumah sebelum ia menghubungi Seungho lagi untuk kembali membicarakan kasus itu.
"mh, bukankah itu anak lakilaki yang bersama Soyeon tadi?" gumam Kahii saat ia melihat Cheolyong yang sedang berjalan menuju parkiran.
"bukankah orang itu..." terka Kahii ketika ia melihat seorang pria yang berjalan dibelakang Cheolyong layaknya seorang bodyguard.
"benar, dia pengawal eomma waktu sedang berada dijepang." katanya ketika ia telah mengiat siapa pria itu
dia ingat kalau pria itu adalah pemgawal ommanya dulu saat ia dan eommanya pergi ke jepang atas perintah jihoon, appaya. Pria itu yang selalu menemaninya bermain ketika eommanya, Kim Yuna sedang tidak bisa menemaninya. Memang kenangan masa kecil yang indah tapi juga pahit.
"Jinon OPPA!!" seru Kahii pada pria itu. Jinon yang saat itu hendak masuk ke mobilnya langsung menatap Kahii dari kejauhan. Ekspresinya berubah menjadi cemas dan buru buru ia masuk ke dalam mobil lalu menstarter mobilnya dan pergi. Cheolyong yang duduk di kursi penumpang bingung dengan kelakuan jongsuk itu.
"wae? Kenapa dia pergi begitu saja saat melihatku?"

aku menantikan updatenya yea ^^
BalasHapusmaaf ya kalo kelanjutannya bakal lebih lama lagi hehe
Hapussoalnya saya lagi persiapan ujian nasional tahun depan hhhh~
tapi thanks ya udah coment^^
annyeong... salam kenal awessong ^^
BalasHapusaaahhh aku tdk sabar mnunggu klanjutannya.
aku baru belajar buat ff hehehe mianhe numpang promosi http://onlyssong.wordpress.com/ gomawo ^^
annyeong... salam kenal juga^^
Hapusmaaf ya baru bisa bales coment sekarang
oke, untuk kelanjutannya mungkin bakal sedikit lama lagi berhubung aku lagi persiapan UN hehe mungkin habis UN bakal diselesaiin.
wah asik nih ketemu yang suka seungho juga hhe, nanti aku mampur ke blogmu kok ^^
thanks udah komen^^