Selasa, 06 September 2011

Take Me Away



Author:  Mr.awesome
Main cast: Yang SeungHo (MBLAQ), Park SoYeon (T-ARA), Bang CheolYong (MBLAQ), Park Kahii (AS)
Other cast:  Park SangHyun (MBLAQ), Lee Changsun (MBLAQ), Jung ByungHee (MBLAQ), Lee JooYeon (AS), Jeong Jihoon, Sandara Park (2NE1), Kim JungAh (AS) And Other :D
Rating: PG
Length: -
Genre: Romance, Angst
Disclaimer: The Plot of this Fanfic is mine, the characters are all belong to themselves, but Yang Seungho is mine kkeke

PART 1

"appa!" gertak seorang gadis kepada seorang pria yang lebih tua darinya.
"jangan panggil aku appa! Aku bukan appa mu!" kata pria itu terdengar ketus.
"baiklah aku panggil kau eomma?" terka gadis itu dengan senyum, lalu pria itu pun mendeliknya kesal.
"baiklah, baiklah.. Sekarang tidak ada satupun orang yang mau jadi orang tuaku" kata gadis itu menundukan kepalanya.
"Soyeon-aa" kata pria itu berjalan mendekati gadis bernama Soyeon yang sedang berjalan gontai meninggalkannya.
"yaa!" katanya lagi sambil menarik tangan Soyeon. Lalu pria itu pun menghela nafas panjang dan berkata "baiklah! Hari ini kau boleh memanggilku appa" kata pria itu malas, Soyeon mendokakkan wajahnya dan tersenyum riang pada pria itu
"gumaweoo Seungho Appa!!"

***

SeungHo P.O.V
Soyeon menarik lenganku dengan keras. Sesekali ia melantunkan nyanyian riangnya sambil meloncat loncat. Padahal umurnya sudah 16 tahun, tapi perilakunya sama sekali tidak terlihat seperti gadis seumurannya. Gadis itu, Jung Soyeon, keponakanku yang sudah kurawat semenjak ia berumur 11 tahun. Semenjak orang tuannya meninggal dimana ibunya adalah kakak ku. Tepatnya 5 tahun yang lalu, mereka meninggal dengan cukup mengenaskan.
Ketika itu hanya aku yang dapat menyelamatkan nyawa Soyeon . Dimana saat itu, Soyeon duduk dilantai diantara mayat kedua orang tuanya. Tanpa fikir panjang aku langsung menggendong Soyeon yang lemah, wajahnya pucat pasi, sekujur tubuhnya gemetar . Akupun tidak membiarkan Soyeon untuk melihat kedua jenazah orang tuanya itu lagi. Dengan segera aku amankan Soyeon yang masih menjadi incaran para mafia itu.
Yak, Byunghee hyung dan Jooyeon noona  tewas ditangan para mafia mafia itu. Entahlah, aku pun waktu itu masih bingung. Kenapa para mafia itu menyerang Byunghee hyung ? Mereka juga membunuh Jooyeon noona, dan hampir saja mereka menghabisi Soyeon dengan senjata api yang mereka punya. Aku sempat berfikir bahwa ini ada sangkut pautnya dengan pekerjaan Byunghee hyung sebagai pengacara, tapi aku tidak pernah lagi mengungkit kasus itu semenjank Soyeon meminta agar aku tidak pernah membicarakan hal itu lagi. Dan pihak kepolisian pun memutuskan untuk memberhentikan pencarian pelaku. Memang sangat ganjal, tapi aku sudah berjanji pada Soyeon untuk tidak pernah mengungkitnya lagi.
Kami tinggal di sebuah apartemen biasa. Aku kini harus berusaha untuk menghidupinya. Untungnya aku bisa menyelesaikan studi sarjanaku dengan waktu yang bisa dibilang sebentar. Dan kini aku menghidupinya dengan pekerjaan yang sekarang aku lakoni, seorang lawyer atau biasa orang-orang menyebutnya pengacara. Pekerjaan yang juga pernah di lakoni Byunghee hyung sampai akhir hayatnya. Karna masa lalu itu juga, pada awalnya Soyeon benar benar menolak jika ahjussinya  memiliki pekerjaan yang sama dengan appanya.
Walaupun begitu aku tetap melanjutkan niat ku menjadi seorang lawyer. Sedikit demi sedikit Soyeon mulai menerima walaupun dia suka menggerutu setiap aku berangkat kerja. Aku memakluminya, dia masih labil dan dan punya pengalaman buruk tentang itu.
Soyeon duduk manis di bangku depan kelasnya. Sesekali mendorongku untuk cepat memasuki kelasnya. Hari ini, adalah hari pembagian nilai akhir semester. Kudengar dari ceritanya, ia mendapatkan nilai nilai yang memuaskan saat ulangan akhir semester kemarin. Pantas saja dia bersemangat sekali ingin memperlihatkannya padaku.
Aku pun masuk keruangan yang cukup luas itu dan berjalan menuju meja guru. Dimana,  sonsaengnim telah menunggu ku yang bisa dibilang kurang tepat waktu.
"silahkan duduk" kata sonsaengnim dengan ramah, aku pun duduk di hadapannya. Cukup lama kami berbincang mengenai peningkatan prestasi belajar Soyeon. Sonsaengnim pun sangat kagum akan apa yang telah dicapai Soyeon. Ia menjadi juara umum dengan nilai yang pasti mendekati sempurna. Sungguh sebuah kebanggaan bagiku. Walaupun ia termasuk anak yang rewel dan manja. Tapi ia selalu bekerja keras untuk mencapai tujuannya. Sonsaengnim pun memberikan selamat padaku, dan itulah akhir perbincaraan kami.
Saat aku keluar ruangan tersebut. Soyeon masih duduk di bangkunya dengan manis, dan terlihat sedikit kaget saat aku memghampirinya.
"bagaimana rapotku, appa?" tanya nya sambil menarik lengan kanan ku. Aku hanya diam sedikit tersenyum. Kalau aku langsung memujinya, dia pasti akan berkata yang aneh aneh.
"ayo katakanlah, bgaimana rapotku?" tanyanya lagi sambil menarik lengan kemejaku. Lagi lagi aku hanya diam, dan mulai meninggalkan tempat tadi. Soyeon mengikutiku dari belakang. Terlihat di sudut mataku, raut wajah Soyeon yang kesal. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.

***

"pesanlah semua yang kau mau." kataku mempersilahkannya, dengan antusias Soyeon langsung menyambar daftar menu dan menyebutkan semua pesanannya, yang cukup membuat pelayan restoran ini kewalahan.
"kau akan menghabiskan semuanya??" tanyaku tidak percaya, dia hanya mengangguk. Tak lama kemudian pelayan datang membawa semua makanan pesanan kami. Dengan sekejap Soyeon menghabiskan makanan-makanan tersebut dengan lahap.
"aku benar benar tidak tau, ususmu itu terbuat dari apa" sindirku karena takjub melihat nafsu makan Soyeon yang besar.
"makansajalah appa! Kapan lagi kita makan makanan selain ramyeon buatanmu itu, benarkan?" katanya, tersenyum kecil.
"yak! Kau tau, ramyeon juga berprotein!"
"yang benar saja, ramyeon itu membawa banyak lemak, lihat saja tubuhmu..penuh lemak iih," 
"auu" rintihnya seketika saat aku menjitak kepalanya, ia menatapku tajam.
"fyoh, tapi aku sangat berterimakasih padamu. Bukan karena makanan ini. Tapi karna kau mau kupanggil appa! Gumawo.. " ucapnya tulus, "jeongmal gumawo hyung" lanjutnya lagi, ia memanggiiku hyung. Sapaan yang biasa ia ucapkan padaku.
Aku tau perasaannya. Saat ia bercerita padaku bahwa rapot teman temannya akan diambil appa dan eomma mereka "sedangkan aku?" katanya saat itu. Bahkan ia berkata dengan jujur bahwa ia iri pada teman temannya. Yah,walaupun kelihatannya aku tidak suka untuk dipanggil appa, tapi sebenarnya aku senang akan hal itu. Toh, selama 5 tahun ini, aku benar benar menjadi appa sekaligus eomma untuknya.

SeungHo P.O.V end
***
Jung SoYeon P.O.V
pagi ini aku bangun lebih awal, aku ingat apa yang kukatakan kemarin pada hyung tentang ramyeon. Aku sekarang mulai sadar, kenapa kami selalu makan ramyeon? Itu bukan karna Seungho hyung jarang mempunyai waktu untuk memasak tapi karna aku yang sama sekali tidak bisa memasak. Mulai hari ini aku akan belajar memasak! aku sendiri juga bosan makan ramyeon.
Tak ada banyak pilihan menu yang bisa kumasak…nasi goreng, omelet, Bibimbap. Ahh baiklah! Aku pilih yang paling mudah yaitu omelet. Beberapa menit berkutat di dapur omelet buatanku sudah tersaji di meja makan. Namun, aku belum melihat  Seungho hyung keluar dari kamarnya.
Aku pun memeriksa kamarnya, tapi kosong. Ku periksa kamar mandi, tidak ada siapa siapa. Kemana orang itu? --"
tidak sengaja aku berjalan melalui balkon, dan telingaku menangkap suatu suara yang aneh. Akupun berjalan dengan hati hati menuju balkon.
"hss..hss..hss..."
Apa yang kulihat kini merupakan suatu pemandangan yang cukup aneh. Seungho hyung yang sedang  berolahraga, tangangnya terus mengayunkan barbel kecil. Lengan dan tubuhnya sudah dipenuhi dengan keringat. Dan dia hanya mengenakan kaos tipis tanpa lengan juga celana pendek.
-DEG-
Aku tetap bertahan di ambang pintu balkon, lalu aku berbalik bersembunyi di belakang jendela sambil ngatur nafasku.  Perasaan ini muncul lagi.
Mungkin akan lucu kalau aku bilang "aku menyukai Seungho hyung" yang merupakan seseorang yang seharusnya kuanggap paman. Namun, seperti kata pepatah, hati tidak akan pernah bisa berbohong. Aku memang "menyukai"nya. Bahkan sebelum kejadian kelam itu terjadi aku sudah menyimpan rasa ini. Walaupun saat itu umurku belum menginjak remaja.
Awalnya memang sulit harus hidup bedua dengan orang yang kau suka, tapi semakin berjalanannya hari aku mulai terbiasa, untuk mengndalikan diri. Aku yakin iya tidak pernah curiga sama sekali padaku. Sempat sesekali aku tunjukan kalau aku menyukainya. Tapi, sifatnya yang terlalu buruk itu membuatnya cuek dengan tingkahku.

"sejak kapan kau disini?"
"ne??"kagetku karena melihat sosoknya masuk. Sepersekian detik kemuadian, raut wajahnya beruhah. Ia mulai mengendus ngendus aroma yang tercipta dari masakanku.
"aku yang memasak hari ini " ucapku, ia pun mengerutkan keningnya.
"kau memasak?" katanya heran, aku hanya menghela nafas. Haruskah iya menunjukan ekspresi seperti itu, seakan akan memasak adalah hal yang paling lucu yang pernah aku lakukan.
"ayolah, kita makan" kataku buru buru mendorongnya menuju meja makan sebelum ia mengatakan hal yang menjengkelkan lagi.
Seungho hyung pun duduk di tempat yg biasa ia duduki, lalu menyantap omelet yang sudah kusiapkan tadi. Setalah beberapa suapan pertama, ia belum juga berkomentar, ia hanya bergumam kecil. Omelet dipiringnyappun habis tak tersisa, lalu meminum orange jus di sebelahnya.
"buruk" ucapnya singkat.
"apanya yang buruk? Tidak enak kah?"
"buruk, sangat buruk!"  ucapnya lagi, akupun mengerucutkan bibirku. Sudah untung kubuatkan sarapan!
Akupun mengambil piringnya secara paksa, padahal ia baru menambah isi piringnya. Ia menatapku kaget, dan hendak mengambil lagi piringnya.
"katanya buruk? Kau masih mau makan makanan yang rasanya buruk seperti ini" gerutuku, Seungho hyung dengan cekatan langsung mengambil piringku yang masih penuh dengan omelet. Ia langsung memakanya dengan lahap. Aku hanya melongo melihatnya. Dia mempermainkaku --'
"yak!!"
"siapa yang bilang? Aku kan tidak pernah bilang kalau makanannya yang buruk" katanya sambil terus memakan makanannya.
Aku menghela nafas panjang, lalu duduk kembali di tempat kursiku. Baru saja aku hendak makan omeletku, dan itupun baru disuapan pertama. Seungho hyung langsung mengambil semua omelet yang ada dipiringku dan  melahapnya.
"yak! Hyung aku baru saja mau makan 1 sendok. Astaga, kau senang sekali mengganggu hidup orang"
"ini berlemak, tidak baik anak gadis banyak makan makanan yang berlemak" ucapnya tanpa memalingkan wajahnya dari piring di hadapannya. Aku hanya bisa geleng geleng kepala.

"hyung?"
"nee?"
"sudah lama aku tidak melihat mu berolah raga seperti tadi.." ucapku polos, Seungho hyung langsung berhenti dari kegiatannya.
"hanya ingin" jawabnya sambil menatapku
"ahh, pasti karna aku bilang kalau tangan mu berlemak bukan?haha"
"yak" katanya lalu tertawa kecil, "ini bukan lemak, tapi otot " ucapnya membela diri.
"aku punya mata hyung, aku tau yg mana otot yang mana lemak"
"makanya, jangan terlalu sibuk, menjadi pengacara itu membuatmu harus meninggalkan kegiatan kecil yang bermanfaat seperti berolah raga," jelasku, Seungho hyung terlihat tak menghiraukanku, lagi lagi seperti itu.
"hari ini kau mau kmana?" tanyanya setelah piringnya kosong, aku hanya geleng geleng, karna memang aku belum punya rencana apapun hari ini.
"kalau begitu ikut aku bertemu klien mau tidak?" tawarnya, jelas jelas aku tidak menyukainya.
"tidak usah, lebih baik aku pergi ke rumah Dara onnie "tolakku terdengar ketus.
"habis itu, kita jalan jalan. Bukankah ada film baru dibioskop?" tawarnya, yg kini membuatku meliriknya.
"ahh, tidak tidak! Kalau seperti itu aku akan tetap menunggumu bertemu klien, aku benci itu" tolak ku, terlihat Seungho hyung sedikit kecewa.
"hss,baiklah, kalau begitu jangan menyusahkan Dara noona ok? Aku pulang malam sepertinya, ara?" ucapnya lalu berdirii, dan meninggalkan kursinya lalu menghampiriku.
"benar tidak ingin ikut?"
"shi-reo, aku main sama Sanghyun oppa saja" ucapku dengan penegasan yang kuat.
"keurae," katanya sambil tertawa, tangannya menggapai rambutku dan mengacaknya lalu pergi. 
***
Seungho duduk disalah satu meja di cafe aPLUS. Ia sedang menunggu kliennya datang, sudah hampir 15 menit ia menunggu tapi kliennya itu belum juga datang.
"anyeong.." sapa seorang wanita yang berdiri di sebelah meja Seungho. Ia terlihat cantik denga dress selutut yang ia kenakan.
"maaf telah membuatmu menunggu lama" lanjutnya, lalu duduk di hadapan Seungho.
"tidak apa apa, saya juga belum lama datang" ucap Seungho,
"Kahii imnida, Jeong Kahii" wanita itu memperkenalkan diri.
"Jeong Kahii?" ucap Seungho kaget.
"nee, sudah lama tidak bertemu Yang SeungHo" ucap kahii dengan senyum penuh arti.
***
"baiklah kau ingin cerita apa?" ucap Jiyeon sahabat Soyeon. Mereka tengah duduk di salah satu bangku taman dekat sekolah. Sebelummya soyeon yang sedang berada di rumah Dara, meminta izin untuk pergi keluar. Padahal Sanghyun, adik Dara hendak mengajak soyeon makan eskrim, kebiasaan mereka berdua.
Soyeon sendiri yang meminta Jiyeon untuk menemuinya di taman. Entah mengapa, fikirannya sedang kacau, semua itu karena perasaannya pada Seungho.
"aku sudah mengikuti saranmu untuk tidak pernah mengingat fikiran itu lagi.." ucap Soyeon memulai sesi curhatnya "tapi hyung, dia selalu membuatku untuk terus mengingatnya, eotteohkae?" rintihnya,
"ckck, kau sudah mengidap penyakit akut sepertinya, kau suka pada pamanmu sendiri, dan sekarang kau beranggapan bahwa dia selalu membuatmu terpesona?" cibir Jiyeon tidak percaya. Soyeon langsung menatap sahabatnya itu, kesal.
"mwo? Itu kan yang mau kau katakan padaku, memang apa yang ia lakukan padamu sampai membuatmu galau seperti ini?" tanya Jiyeon, yang membuat wajah Soyeon bersemu merah.
"dia tadi pagi berolah raga, hanya karna malamnya aku bilang kalau tubuhnya berlemak" ungkap Soyeon dengan malu malu.
Jiyeon hanya bisa menggeleng gelengkan kepala. "berfikirlah positif Soyeonna. Itu terjadi karna kau orang yang paling dekat denganya, karna kau keponakannya"
"tapi orang jatuh cinta sulit untuk berfikir positif kan?"elak Soyeon.
"hss, baiklah. Kita fikirkan cara lain?" kata Jiyeon lalu berjalan mundar mandir, Soyeon tetap pada posisinya sambil menunggu Jiyeon berbicara.
"hah! Aku tau!" celetuk Jiyeon.
"mwo?"
"sebaiknya kau mencari gebetan baru, atau kau memberi kesempatan kepada fans fans mu" kata Jiyeon lalu duduk di sebelah Soyeon
"lihat, Cheolyeong sunbae, sedari tadi terus menatap padamu. Kau bisa membuka hatimu untuknya, difikir-fikir aku kasian padanya, dia terus menunggu mu, tapi kau selalu acuh padanya" lanjut Jiyeon.
"shireo!aku tidak suka padanya! Wajahnya wajah mesum" celetuk Soyeon, kesal. Cheolyeong, kakak kelas Soyeon yang sedari dulu telah menyukai Soyeon. Tapi ia selalu menolak dan menghindar. Padahal Cheolyeong merupakan anak dari seorang pengusaha ditambah ia mempunyai  paras yang tampan, dia juga baik dan ramah. Dan ia pintar dalam hal olahraga. Tapi Soyeon tidak pernah tertarik tentang hal itu, yg ada di otaknya hanya ada Seungho.
"pikirkanlah dulu, baru kau putuskan"

***
"sudah lama kita tidak bertemu? Semenjak kasus itu ditutup, kita tidak bertemu kan?" ucap wanita bernama Jeong Kahii itu. Seorang wanita yang merupakan anak dari seorang presiden direktur perusahan terkenal  Jeong Ji Hoon yang tewas terbunuh 5 tahun yang lalu.
Seungho dan Kahii pertama kali bertemu di pengadilan, saat kasus pembunuhan Byungee mulai diangkat di meja hijau. Kenapa bisa? Byunghee merupakan pengacara pribadi  sekaligus kerabat dekat Jihoon . Saat Jihoon terbunuh, Byunghee menjadi satu satunya saksi karna saat itu, Byunghee yang baru saja bertemu dengan Jihoon. Namun belum Byunghee mengungkapkan kesaksianya, seminggu setelah kematian Jihoon, ia ditemukan tewas di salah satu rumah kosong bersama istri dan anaknya. Yaitu Joyeon dan Soyeon, beruntung gadis cilik itu dapat diselamatkan.
"hmm, itu kira kira 5 tahun yang lalu, bagaimana kabarmu? Kau terlihat berbeda, aku sama sekali tidak mengenalimu"
"ya seperti kau lihat, aku baik baik saja sekarang, berbeda jauh dengan aku yang dulu begitu rapuh" ungkap Kahii lalu tersenyum pahit.
"ya, kejadian itu sudah berlangsung lama, ada baiknya kita membangun hidup yang lebih baik" ucap Seungho mengeluarkan kata kata bijaknya.
"bagaimana kabar Soyeon? Pasti dia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik"
"ya begitulah, ia sudah sekolah di kelas 2, dia butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan traumanya"
"ya, memang sungguh sulit untuk melupakannya, aku juga dulu begitu" ucapnya lalu menyeruput cofee latte pesanannya "dan aku ingin benar benar melupakannya dan menuntaskannya, itulah maksud kedatanganku"
"maksudmu?" tanya Seugho, ia memang sedikit bingung dengan apa yg diucapkan Kahii.
"ayo kita lanjutkan kasus itu" ucap Kahii, menatap tajam mata seungho. "kuhabiskan waktu selama 3 tahun untuk menyiapkan diri, mencari segala bukti dan kemungkinan yang ada. Dan sekaranglah waktunya" ucap Kahi yakin. Muncul persaan ragu di hati Seungho. Baginya, menjadi pengacara merupakan jalan untuknya bisa membuka kembali kasus itu walaupun hal itu di benci Soyeon.
Seungho terdiam sejenak, menimbang nimbang keputusan yang menurutnya berat ini. Bisa saja setelah mereka membuka kasus ini, kehidupan Soyeon akan terancam. Itulah yang ditakutkan Seungho.
"entahlah, ini membingungkanku. Soyeon benar benar benci kalau dia tau aku mengungkit lagi perkara itu. Terlebih, psikiater Soyeon bilang kalau ia mengingat lagi masalahnya itu bisa bisa depresinya kambuh" jelas Seungho. Kahii mengerti akan keadaan Soyeon, bagaimana rasanya melihat kedua orangtua kita terbunuh di depan kepala mata kita. Tapi baginya masalah ini harus tuntas, ia benar benar ingin tahu siapa otak dari pembunuhan ayahnya dan Byunghee.
"baiklah selagi kau memikirkannya, ayo temani aku minum!" ucap Kahii sambil menarik tangan Seungho.
"nee?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar